Working Paper : U.S. And Bio-Chemical Weapon, How To Deal With It ?


DEALING WITH WMD (WEAPON OF MASS DE-POPULATION)
“This newly emerging science, if it is ever applied to weapons research, has the potential to revolutionize
humankind’s ability to destroy life, just as it is currently revolutionizing ways to save and enhance life. This is a scientific revolution every bit as profound as the dawning of the nuclear age, and one which is likely to command at least as much attention in the first half of the 21st century.”
– Richard A.Falkenrath –
Assistant professor of public policy at Harvard University’s John F. Kennedy School of
Government in Cambridge, Massachusetts
Introduction
Amerika Serikat merupakan sebuah negara besar dengan berbagai kapabilitas yang dimilikinya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kebesaran yang dimiliki oleh Amerika Serikat, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi oleh mereka. Era pemerintahan mantan Presiden George W.Bush merupakan masa pemerintahan yang memiliki sejarah dan proses panjang, terutama dengan banyaknya kontroversi dari berbagai kebijakan yang dibuat pada era pemerintahannya.
Akibat dari muculnya berbagai kebijakan yang kontroversial seperti invasi Afghanistan dan Irak pada tahun 2003, citra Amerika Serikat menurun di mata publik dan memunculkan banyak resistensi terhadap Amerika Serikat yang pada akhirnya menjadi hambatan-hambatan bagi pencapaian kepentingan nasional Amerika baik skala kecil, menengah maupun skala besar.
Kini Amerika Serikat dipimpin oleh seorang sosok pemimpin baru, Barrack Obama. Ia menjabat sebagai presiden yang berasal dari kalangan demokrat dan menjalankan tugasnya menggantikan era pemerintahan Bush.
Tetapi, tugas Obama sebagai presiden tidaklah mudah, disamping banyaknya agenda yang harus dijalankan di era pemerintahannya, Obama juga harus memperbaiki citra dan kekuatan Amerika Serikat yang pada era Bush telah mengalami degradasi. Obama harus mengembalikan kepercayaan publik internasional dan berupaya meyakinkan publik agar bisa mendukungnya dalam menjalankan program kerja pemerintahannya. Tantangan yang dihadapi Obama bukanlah tantangan yang mudah, ia harus tetap selalu mempertahankan stabilitas homeland security / lingkungan domestik Amerika Serikat dan juga menghadapi berbagai potensi ancaman yang ada dari lingkungan eksternal.
A.1. Kategorisasi Tantangan Bagi Pencapaian Kepentingan Nasional Amerika Serikat.
Seperti yang telah penulis jelaskan pada bagian pendahuluan, Amerika Serikat merupakan sebuah negara dengan kapabilitas yang besar sehingga menyebabkan keterlibatan dan perannya dalam hubungan internasional semakin meningkat, begitu pula dengan kepentingan nasionalnya akan semakin kompleks dan beragam. Namun dengan adanya berbagai kebijakan kontroversial yang ada pada era Presiden Bush, pada akhirnya malah menimbulkan berbagai ancaman dalam proses pencapaian kepentingan nasionalnya tersebut.
Kepentingan nasional Amerika Serikat berada hampir di segala penjuru dunia dan mencakup segala aspek, mulai dari isu-isu high-politics seperti isu strategis, keamanan, politik, ekonomi, dan lain sebagainya, sampai pada kepentingan yang bersifat low-politics seperti isu lingkungan, dan lain sebagainya.
Kini Presiden Obama menghadapi tanggungan tugas dan beban yang berat dalam upayanya mencapai tujuan tersebut, ia harus kembali meyakinkan pandangan dan citra positif dari masyarakat internasional mengenai Amerika Serikat, serta mengajaknya bersama-sama mencapai kepentingan Amerika Serikat yang seringkali dianggap sebagai kepentingan global.
Dalam pembahasan kali ini, penulis akan lebih banyak menggunakan kerangka berpikirnya berdasarkan kesinambungan isu-isu global dalam kaitannya dengan isu bioterorisme.
Penulis akan lebih banyak membuat academic judgment dipandang dari sudut pandang penulis, dan lebih sedikit menggunakan data-data panunjang mengenai apa yang telah terjadi di Amerika Serikat berkaitan dengan isu ini. Mengenai prediksi dan langkahlangkah yang harus dilakukan oleh Amerika Serikat, penulis akan membahasnya menurut cara pandang penulis yang dikaitkan dengan teori-teori yang ada.
A.2. Deskripsi Bio-Terrorism dan Dampaknya Secara Umum.
Pengertian bio-terorisme secara umum adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan penggunaan sabotase atau penyerangan dengan bahan-bahan biologis atau racun biologis dengan tujuan untuk menimbulkan kerusakan pada perorangan atau kelompok perorangan. Aktifitas-aktifitas ini, secara umum, menyebabkan kerusakan, intimidasi, atau kohersi, dan biasanya berhubungan dengan ancaman yang menyebabkan kepanikan publik. Agen biologis yang paling umum digunakan sebagai senjata teror adalah mikroorganisme dan racunracunya, yang dapat digunakan untuk menimbulkan penyakit atau kematian pada populasi penduduk, binatang, bahkan tanaman. Agen pencemaran dapat dilepaskan di udara, air, atau makanan.
Variabel kunci dari senjata biologi ini adalah disease / epidemik penyakit. Di era abad ke-20, penyebaran penggunaan senjata biologi masih berada pada tingkat yang rendah.
Namun beberapa kasus yang dicurigai sebagai penggunaan senjata biologi ini antara lain ketika Saddam Hussein menggunakan bibit penyakit typus sebagai senjatanya untuk melawan bangsa Kurdi.
The twentieth century has not yet seen widespread use of biological warfare although there is intense suspicion that Saddam Hussein’s Iraq may have “field-tested” typhoid fever as a biological agents against Kurds.
Agen biologis yang dipilih untuk bioterorisme umumnya dapat menimbulkan kesakitan maupun kematian massal, contohnya seperti kuman anthrax, cacar, demam berdarah, Ebola, dan botulinum. Sebagai contoh, kuman penyebab penyakit anthrax, yaitu bakteri Bacillus Anthracis, menghasilkan spora yang amat stabil dan tetap hidup bertahun-tahun di tanah maupun air sehingga amat cocok untuk bio-terorisme. Selain itu, berbagai virus berbahaya, termasuk virus flu burung dan flu babi, perlu diwaspadai dari kemungkinan disalahgunakan sebagai senjata biologis.
Konon kuman patogen telah dijadikan senjata biologis dalam sebuah peperangan sejak abad ke-6. Pada tahun 1520, seorang jenderal Spanyol bernama Francisco Pizarro, yang memimpin pasukannya untuk menaklukkan Kerajaan Inca di Peru dengan memberi pakaian yang mengandung kuman cacar kepada orang-orang Inca. Kini, bioterorisme merupakan ancaman global karena persebarannya tidak mengenal batas wilayah sehingga tiap negara harus siap menghadapinya.
Bioterorisme memang lebih ditakuti karena aksinya sulit dideteksi. Ia berbeda dengan ledakan bom, yang langsung dirasakan sehingga penanggulangan dampak dapat segera dilakukan. Sedangkan infeksi kuman perlu waktu yang cukup lama untuk menimbulkan dampak sehingga si penderita masih bisa bebas beraktivitas di masyarakat dan tidak dapat dipungkiri bahwa kemungkinan besar menularkan penyakitnya kepada orang lain, mengingat penggunaan senjata biologi biasanya menggunakan bakteri atau kuman penyakit yang mudah menular melalui udara maupun kontak fisik. Kuman juga bisa berkembang biak sehingga bioterorisme memiliki potensi daya bunuh lebih tinggi dan lebih luas dibandingkan teror bom konvensional. Hal ini menyebabkan mengapa dampak dari senjata bio-terorisme lebih menakutkan dan berdampak lebih fatal dibanding dampak yang ditimbulkan oleh senjata
lainnya, selain dari segi dampak, kita juga bisa melihat dari segi waktu yang dibutuhkan untuk proses penanganannya, diperlukan karantina yang amat sangat ketat dan negara harus mampu memberdayakan para ilmuwannya untuk menemukan vaksin penyakit-penyakit tersebut.
“Biological warfare is too easy to start and too difficult to stop, further germs and viruses are not as disciplined as soldiers and will attack any vulnerable victims they can reach.”
Kuman untuk bioterorisme bisa amat berbahaya, seperti mudah menyebar, menimbulkan angka kematian tinggi, dan memerlukan penanggulangan khusus, karena ditujukan agar timbul kepanikan dan kekacauan sosial di masyarakat. Kuman anthrax, virus cacar, virus demam berdarah, virus Ebola, kuman penyebab penyakit pes, dan Clostridium botulinum (penyebab keracunan makanan) digolongkan sebagai agen biologis yang paling berbahaya jika digunakan dalam bioterorisme.
Spora B. anthracis dapat menyebabkan demam, menggigil, nyeri otot, dan kondisi yang cepat memburuk. Kuman pes, yaitu Yersinia Pestis, menimbulkan infeksi paru (pneumonia) yang dapat menyebar dari manusia ke manusia. Setelah terjangkit kuman ini, penderita menunjukkan gejala demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan dada, batuk yang mungkin berdarah, dan sesak. Botulisme yang disebabkan Clostridium Botulinum menimbulkan keracunan saraf dan kelumpuhan otot rangka maupun otot pernapasan. Meski dalam jumlah kecil, kuman ini dapat mematikan. Hal serupa terjadi untuk virus cacar.
Di era modern ini, pada awalnya senjata biologis digunakan sebagai instrumen penyerangan terhadap suatu negara lawan, tetapi tidak diarahkan kepada populasi manusia, namun hanya kepada hewan-hewan ternaknya.
“Bio-agents might not be aimed at human populations. One could wreak considerable havoc on
opposing nation by spreading anthrax or some other equally lethal disease among its livestock.”
Tetapi seiring dengan perkembangan waktu dan modernisasi teknologi ditambah dengan kompleksitas isu global seperti munculnya kelompok-kelompok teroris, penyalahgunaan senjata biologis ini salah satunya bisa digunakan oleh kelompok teroris.
Inilah wacana yang paling ditakuti oleh Amerika Serikat, mengingat selama ini program Global War on Terrorism merupakan program yang gencar dijalankan oleh Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
A.3. Apa yang Harus Dilakukan Negara Dalam Menghadapi Ancaman Bio-Terrorism ?
Untuk menangani ancaman senjata biologis ini, negara harus menemukan bibit penyakit baru, atau mungkin mengembangbiakkan bakteri patogen yang sudah ada, yang memungkinkan proses penyebarannya sangat cepat sehingga bisa dengan segera dilemahkan dan menciptakan imunisasinya sebagai upaya preventif guna menghadapi ancaman yang sama di masa yg akan datang. Misalnya saja jika negara Amerika Serikat dimana memiliki jumlah prajurit yang besar di luar negaranya, seperti di Irak dan Afghanistan, tidak dapat dipungkiri bahwa ancaman senjata biologis ini sangat memungkinkan untuk terjadi.
Maka yang sebaiknya dilakukan pemerintah Amerika Serikat adalah melakukan vaksin kepada semua tentaranya dan semua penduduknya jika bahaya ancaman penyakit sudah mendekati wilayah batas negara, seperti kasus flu babi yang beberapa waktu yang lalu mewabah dan bermula di Mexico.
B. Teori yang Digunakan Dalam Menjelaskan Bio-Terrorism Sebagai Ancaman Potensial Bagi Amerika Serikat.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, perkembangan isu global dan meningkatnya peran Amerika Serikat disertai dengan kompleksitas kepentingannya di lingkup global, maka menyebabkan tantangan yang sedang dan akan dialami oleh Amerika Serikat juga akan semakin kompleks. Bioterorisme bukanlah suatu isu yang baru, hal ini sudah ada sejak abad ke 16 (seperti yang telah dibahas dalam pembahasan mengenai bio-terorisme), namun di era modern ini, arah dan sasaran bio-terorisme bukan lagi ditujukan bagi hewan ternak saja, melainkan bagi populasi masyarakat suatu negara. Situasi menjadi lebih buruk, ketika senjata biologis ini disalahgunakan oleh negara maupun kelompok-kelompok yang resisten terhadap arogansi Amerika Serikat di era pemerintahan George W.Bush yang kini beban tanggungannya dihadapi oleh pemerintahan Obama.
Namun sebelum melangkah lebih jauh mengenai ancaman bio-terorisme kepada Amerika Serikat, penulis akan menjelaskan dahulu konsep-konsep maupun teori yang digunakan sebagai kerangka berpikir untuk menjelaskan pembahasan selanjutnya. Konsep yang akan digunakan adalah konsep mengenai human security.
Konsep human security juga didefinisikan oleh UNDP tahun 1994 , pembagian ancaman kepada setiap
individu dibagi ke dalam 7 kategori umum, yaitu :
1. Economic security — Economic security requires an assured basic income for individuals,usually from productive and remunerative work or, as a last resort, from a publicly financed safety net. In this sense, only about a quarter of the world’s people are presently economically secure. While the economic security problem may be more serious in developing countries, concern also arises in developed countries as well. Unemployment problems constitute an important factor underlying political tensions and ethnic violence.
2. Food security — Food security requires that all people at all times have both physical and economic access to basic food. According to the United Nations, the overall availability of food is not a problem, rather the problem often is the poor distribution of food and a lack of purchasing power. In the past, food security problems have been dealt with at both national and global levels.
However, their impacts are limited. According to UN, the key is to tackle the problems relating to access to assets, work and assured income (related to economic security).
3. Health security — Health Security aims to guarantee a minimum protection from diseases and unhealthy lifestyles. In developing countries, the major causes of death are infectious and parasitic diseases, which kill 17 million people annually. In industrialized countries, the major killers are diseases of the circulatory system, killing 5.5 million every year.
According to the United Nations, in both developing and industrial countries, threats to health security are usually greater for poor people in rural areas, particularly children. This is mainly due to malnutrition and insufficient supply of medicine, clean water or other necessity for healthcare.
4. Environmental security — Environmental security aims to protect people from the short- and long-term ravages of nature, man-made threats in nature, and deterioration of the natural environment. In developing countries, lack of access to clean water resources is one of the greatest environmental threats. In industrial countries, one of the major threats is air pollution. Global warming, caused by the emission of greenhouse gases, is another environmental security issue.
5. Personal security — Personal security aims to protect people from physical violence, whether from the state or external states, from violent individuals and sub-state actors, fromdomestic abuse, or from predatory adults. For many people, the greatest source of anxiety is crime, particularly violent crime.
6. Community security — Community security aims to protect people from the loss of traditional relationships and values and from sectarian and ethnic violence. Traditional communities, particularly minority ethnic groups are often threatened. About half of the world’s states have experienced some inter-ethnic strife. The United Nations declared 1993 the Year of Indigenous People to highlight the continuing vulnerability of the 300 million aboriginal people in 70 countries as they face a widening spiral of violence.
7. Political security — Political security is concerned with whether people live in a society that honors their basic human rights. According to a survey conducted by Amnesty International, political repression, systematic torture, ill treatment or disappearance was still practised in 110 countries. Human rights violations are most frequent during periods of political unrest. Along with repressing individuals and groups, governments may try to exercise control over ideas and information.
Konsep human security yang dapat digunakan untuk menjelaskan isu bio-terorisme adalah mengenai konsep food, environment, community, personal and health security, dimana setiap warga negara berhak mendapat perlindungan dari negara yang menjamin kesehatan mereka. Negara wajib melindungi kesehatan dan keselamatan setiap warganya, karena kesehatan merupakan modal yang kuat dalam pembangunan sebuah negara di segala aspek, maka negara diharuskan menjaga tingkat kesehatan warganya serta mencegah berbagai ancaman yang ada sebagai upaya-upaya preventif.
C.1. Ancaman Bio-Terrorism dan Strategi Amerika Serikat dalam Menghadapinya.
Bahaya dan dampak yang ditimbulkan oleh senjata biologis merupakan bahaya masive yang lebih buruk dari sekedar bahaya penyebaran senjata nuklir.
Seorang ahli dari Amerika Serikat mengatakan bahwa :
“An attack on the United States or its allies by terrorists with biological weapons is a more worrisome
and urgent threat than the spread of nuclear weapons. The Commission on the Prevention of Weapons of Mass Destruction, Proliferation and Terrorism, said the United States was making better progress in regard to the nuclear threat than it was preparing for possible bioterrorism.
“The nation’s level of preparedness for dealing with the threat of bioterrorism remains far lower than
that of the nuclear threat,”
Maka dari itu, dalam menghadapi permasalahan ini, penulis mencoba untuk mengkategorikan isu bioterorisme sebagai kepentingan vital Amerika Serikat.
“Prevent, deter, and reduce the threat and there be no nuclear, biological, or chemical weapons
attacks on the United States or against its military forces abroad.”
Isu WMD (Weapons of Mass Destruction) merupakan kajian penting bagi Amerika Serikat di era modern ini. Senjata nuklir merupakan ancaman nyata yang sangat potensial dan dapat diperkirakan kerusakan yang dapat ditimbulkannya.
Tidak berbeda jauh dengan senjata nuklir, senjata biologis juga memiliki dampak kerusakan yang bersifat masive, namun yang membedakan senjata biologis dengan senjata nuklir adalah dari segi waktu recovery nya. Recovery dari dampak senjata biologis memerlukan waktu yang sangat lama, dan bisa menimbulkan efek jangka panjang. Hal ini dikarenakan agen biologis merupakan agen yang bersifat adaptif dengan kekebalan / imunitas dari tubuh seseorang. Hal ini juga menyebabkan proses recovery memerlukan waktu yang sangat lama dan harus melalui beberapa tahap seperti karantina dan vaksinasi.
Dalam menghadapi ancaman bio-terorisme ini, pemerintah Amerika Serikat bersama-sama dengan kongres telah menetapkan sebuah hukum baru, yaitu pada tanggal 12 Juni 2002, dibentuk undang-undang Public Health Security and Bioterrorism Preparedness (Bioterrorism Act). Pada tahun 2004, dalam bagian 564 Federal Food, Drug and Cosmetic Act (21 U.S.C 360bbb-3) diamandemen oleh Project Bioshield Act of 2004 (Public Law 108-276).
Tugas dari Project Bioshield Act of 2004 ini adalah :
“Permits the FDA Commissioner to authorize the use of an unapproved medical product or an unapproved use of an approved medical product during a declared emergency involving a heightened risk of attack on the public or U.S. military forces, or a significant potential to affect national security.”
Selain pembentukan dan pengamandemenan undang-undang perlindungan makanan dan obat-obatan, Amerika Serikat juga telah melakukan beberapa projects dan pengembangan dalam upayanya menanggulangi berbagai ancaman ini, diantaranya adalah melalui publikasi dokumen-dokumen yang berguna dalam penanggulangan dan tindakan preventif :
Persiapan dan Perencanaan untuk Keadaan Darurat Bioterorisme :
1. Anthrax Preparation & Planning.
Communication Planning :
Communications in the First Hours : bertugas dalam memberikan pesan mengenai penanggulangan dan sumber daya lain untuk federal, negara bagian, lokal, dan pejabat kesehatan masyarakat untuk digunakan dalam menanggapi suatu keadaan krisis.
Dikembangkan oleh CDC (Centers for Disease Control and Prevention) bekerja sama dengan Kantor Urusan Masyarakat dari US Department of Health and Human Services (HHS).
Response Planning :
CDC Emergency MedKit Evaluation Study Summary Fact Sheet : Lembar fakta ini memberikan ikhtisar tentang MedKit darurat studi evaluasi yang dirancang untuk mengevaluasi strategi yang membahas ketepatan waktu distribusi antibiotik untuk masyarakat umum sebagai ukuran efektifitas terhadap pelepasan virus antraks.
EID Journal : Anthrax Bioterrorism : Lessons Learned and Future Directions : Memberi kesempatan untuk meninjau pelajaran berharga yang telah kita pelajari dari pengalaman pada tahun 2001. Bekerjasama dengan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan (DHHS) serta dengan lembaga federal lainnya, negara bagian, dan badanbadan lokal, agar tetap waspada terhadap bukti pertama dari wabah penyakit anthrax.
Community-Based Mass Prophylaxis : A Planning Guide for Public Health Preparedness :
Perencanaan panduan untuk membantu negara bagian, setiap daerah, & pejabat kesehatan lokal untuk memenuhi persyaratan federal untuk mempersiapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat. Outlines terdiri dari lima komponen profilaksis massal sebagai tanggapan terhadap wabah epidemi.
Membagi-bagi alamat operasi menggunakan struktur operasional yang komprehensif untuk Dispensing / Vaksinasi Pusat (DVCs) berdasarkan Insiden Nasional Management System (NIMS).
(Dikembangkan oleh Weill Medical College of Cornell University untuk Kesehatan Badan Penelitian & Kualitas [AHRQ].) September 2004.
2. Public Health Emergency Response Guide for State, Local, and Tribal Public Health Directors.
Public Health Emergency Response Guide for State, Local, and Tribal Public Health Directors adalah panduan mengenai semua bahaya terhadap kesehatan, alat referensi profesional yang bertanggung jawab untuk melakukan tanggapan kesehatan umum selama 24 jam pertama (yaitu, fase akut) keadaan darurat atau bencana. Memberikan informasi yang berguna mengenai aktivasi dan integrasi dari yurisdiksi sistem kesehatan publik ke dalam struktur tanggap darurat yang ada selama fase akut dari suatu kejadian. Panduan ini juga berisi pedoman yang dapat diterapkan pada jenis insiden tertentu, seperti banjir, gempa bumi, dan tindak terorisme.
3. Guidance for Protecting Building Environments from Airborne Chemical, Biological, or Radiological Attacks – May, 2002.
Dokumen ini mengidentifikasi tindakan yang harus diambil oleh pemilik bangunan atau manajer pembangunan agar dapat meningkatkan perlindungan dari udara kimia, biologi, atau serangan radiologis.
Dokumen ini mencakup informasi tentang:
– Apa yang harus dilakukan sebagai upaya preventif.
– Rekomendasi khusus.
– Hal-hal yang harus dihindari dalam menghadapi ancaman senjata biologis.
– Keamanan fisik.
– Ventilasi dan penyaringan udara.
– Pemeliharaan, administrasi, dan pelatihan.
4. Bioterrorism Readiness Plan : A Template for Healthcare Facilities.
Bekerjasama dengan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), APIC menawarkan Bioterrorism Readiness Plan untuk sebagai dokumen acuan dan initial template untuk memfasilitasi persiapan Bioterrorism Readiness Plan untuk setiap lembaga.
Dokumen ini tidak dimaksudkan untuk memberikan referensi yang lengkap mengenai topik bioterorisme, melainkan dimaksudkan sebagai alat pelayanan untuk pengendalian infeksi kesehatan epidemiologi untuk memandu perkembangan praktis dan realistis sebagai rencana respons lembaga-lembaga mereka sebagai persiapan nyata untuk sebuah serangan yang diduga sebagai serangan bioterorisme.
5. Guidance on Initial Responses to a Suspicious Letter / Container With a Potential Biological Threat.
Panduan hasil kerjasama antara FBI, Department of Homeland Security, HHS dan CDC.
Panduan ini berisi mengenai rekomendasi untuk local responders, berdasarkan prosedur yang ada (termasuk rekomendasi dari International Association of Fire Chiefs). Dokumen ini memberikan petunjuk mengenai tanggapan terhadap surat-surat yang mencurigakan / wadah-wadah yang dicurigai mengandung patogen penyakit.
6. Funding Guidance and Technical Assistance to State.
Kongres mengesahkan pendanaan untuk Public Health Emergency Preparedness (PHEP) kerjasama
untuk mendukung kesiapan nasional, negara bagian, dan teritorial departemen kesehatan publik pada tahun 2002, tak lama setelah peristiwa 11 September 2001, dan berikutnya serangan anthrax. PHEP kerjasama dalam menyediakan dana untuk memungkinkan departemen kesehatan masyarakat untuk
memiliki kapasitas dan kemampuan untuk secara efektif menanggapi kesehatan masyarakat bukan hanya sebagai konsekuensi dari ancaman teroris, tetapi juga wabah penyakit menular, bencana alam, dan biologi, kimia, nuklir, dan radiologi. Hal ini merupakan kesiapsiagaan darurat dan upaya tanggap dirancang untuk mendukung Respon Kerangka Kerja Nasional (NRF) dan National Incident Management System (NIMS) dan ditargetkan khusus untuk pengembangan darurat departemen kesehatan masyarakat.
7. Community-Based Mass Prophylaxis : A Planning Guide for Public Health Preparedness.
Badan Penelitian dan Kualitas Kesehatan (AHRQ) telah merilis sebuah panduan perencanaan dirancang untuk membantu Negara, negara bagian, dan pejabat lokal untuk memenuhi persyaratan Federal dalam mempersiapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat.
8. The Public Health Response To Biological and Chemical Terrorism : Interim Planning Guidance For State Public Health Officials. – U.S. DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES – Centers for Disease Control and Prevention July 2001.
Departemen Kesehatan AS sekarang mendefinisikan peran mereka untuk menanggapi secara efektif terhadap pelepasan organisme biologis yang disengaja atau bahan kimia berbahaya ke dalam populasi masyarakat. Dalam Federal Fiscal Year 1999, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendapat persediaan dana dari kongres untuk masuk ke dalam perjanjian kerja sama yang bertujuan untuk meningkatkan departemen kesehatan lokal dan negara bagian untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan serta respon relatif terhadap bioterorisme. Sebagian dari dana tersebut digunakan untuk memfasilitasi kesiapsiagaan dan kesiapan penilaian.
9. Strategic National Stockpile (SNS).
Strategic National Stockpile (SNS) memiliki obat-obatan dalam jumlah yang besar dan pasokan medis untuk melindungi rakyat Amerika Serikat jika ada keadaan darurat kesehatan masyarakat (serangan teroris, wabah flu, gempa bumi) yang cukup parah. Pihak Federal dan pihak berwenang setempat setuju bahwa SNS diperlukan, obat-obatan akan dikirimkan ke setiap negara bagian di Amerika Serikat dalam waktu 12 jam. Setiap negara bagian memiliki rencana untuk menerima dan mendistribusikan obat-obatan SNS dan pasokan medis untuk masyarakat lokal secepat mungkin.
10. EPI-X : Epidemic Information Exchange.
Epidemic Information Exchange (Epi-X) merupakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, menggunakan komunikasi berbasis jaringan web yang berfungsi sebagai pertukaran
komunikasi yang kuat antara CDC, negara bagian, departemen kesehatan setempat, pusat
pengendalian racun, dan profesional kesehatan umum lainnya. Menyediakan sistem pelaporan
cepat, pemberitahuan langsung, dukungan editorial, dan koordinasi penyelidikan kesehatan
bagi profesional kesehatan masyarakat.
11. Interstate Quarantine.
Merupakan upaya karantina antar negara bagian, jika telah terbukti bahwa dalam suatu negara bagian terdapat kasus penyebaran wabah penyakit. Hal ini ditujukan guna mengisolasi negara bagian tersebut, agar wabah penyakit yang ada bisa difokuskan penanggulangannya dan mencegah penyebaran kepada negara bagian lainnya.
C.2. Academic Judgment Penulis sebagai Policy-Advice Dalam Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kasus Bio-Terorisme di Masa yang Akan Datang.
Permasalahan bioterorisme bukan hanya masalah bagi Amerika Serikat, tetapi juga masalah bagi semua bangsa dan umat manusia. Maka dalam menanggulangi permasalahan ini, diperlukan kerja-sama dan komitmen yang kuat antar negara-negara, dalam upaya menjaga agen biologis yang ada agar tidak tersebar dan sampai di tangan kelompok / pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti kelompok terorisme.
Upaya mencegah dan menanggulangi ancaman bioterorisme perlu melibatkan semua pihak, baik masyarakat, petugas keamanan, petugas kesehatan, dan ilmuwan. Masyarakat perlu menyadari potensi ancaman bioterorisme dan perlu mendapat informasi cukup tentang pencegahan dan penanggulangannya. Petugas keamanan juga perlu dibekali pengetahuan, kapasitas, dan fasilitas memadai untuk mengamankan masyarakat dari ancaman bioterorisme.
Pihak keamanan pun perlu membangun jaringan guna tindakan pengamanan agen biologis berbahaya dan penyelamatan korban. Selain itu, perlu kecukupan sarana medis, baik peralatan, vaksin, maupun obat yang diperlukan. Para ilmuwan juga perlu dilibatkan dalam mendeteksi, identifikasi, dan penelusuran asal agen biologis yang mengancam. Ilmuwan juga perlu mengembangkan obat penangkal agen bioterorisme.
Laboratorium yang selama ini menangani dan menyimpan agen biologis yang berpotensi digunakan untuk bioterorisme, perlu mengembangkan sistem biosekuriti sehingga agen itu terdata, tersimpan aman, dan terhindar dari kemungkinan keluar dan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Jadi, penulis dalam hal ini menyimpulkan bahwa upaya pencegahan kasus bioterorisme merupakan tanggung jawab semua pihak dan semua makhluk manusia, terlepas dari konteks negara dan batas-batasnya. Dibutuhkan keseriusan dan upaya keras dari semua pihak seperti aparatur negara, masyarakat epistemik, dan juga bahan kesehatan dunia seperti WHO.
WHO disini merupakan lembaga yang bertugas dalam identifikasi penyakit dan bagaimana cara menanggulanginya melalui tindakan-tindakan preventif maupun vaksinasi. Maka dari itu, negara seperti Amerika Serikat dalam kasus ini, perlu mempunyai komitmen yang kuat dalam menghadapi kasus ini, dan juga berupaya menjalin hubungan baik dengan negara lain dan juga memberdayakan kalangan ilmuwan sebagai masyarakat epistemik. Pemberian vaksinasi juga tidak dijadikan sebagai komoditas politik ekonomi, tetapi murni sebagai upaya bantuan pencegahan dan penyembuhan dari wabah penyakit. Pilihan instrumen yang dapat digunakan bermula dari instrumen diplomasi terlebih dahulu, setelah maksimalisasi peran diplomasi namun jika hasil yang diharapkan belum tercapai, maka opsi instrumen terakhir yang digunakan adalah opsi militer.
Penggunaan maksimalisasi instrumen diplomatis merupakan pilihan utama dalam menangani masalah ini.
Instrumen militer merupakan opsi terakhir, jika instrumen diplomasi gagal mencapai hasil yang diharapkan.
Instrumen militer, merupakan bentuk lain dari instrumen diplomasi yang menggunakan kekuatan nyata (real power).
* tulisan sebagai hasil untuk submit tugas ujian akhir semester, mata kuliah Politik Global Amerika Serikat Prof.A.A.Banyu Perwita, Ph.D – Bandung, Desember 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s