Working Paper Summary : Konflik Semenanjung Korea dan Implikasinya (1953)


*Korean War Strategic Map

Abstrak

Konfigurasi politik era Perang Dingin memang sangat kompleks, 2 super power (Amerika Serikat dan Uni Soviet) menyebarkan pengaruhnya dimana-mana tanpa terkecuali di kawasan Asia Pasifik. Asia Timur, merupakan kawasan yang sangat potensial dalam politk internasional sejak era Perang Dunia dengan munculnya “the rising star” Jepang dan Republik Rakyat Cina. Melihat potensi yang sangat besar di kawasan ini ditambah dengan munculnya Cina sebagai kekuatan komunis baru di kawasan ini dan jatuhnya imperialisme Jepang era post-Perang Dunia 2, maka pertarungan pengaruh Amerika Serikat dan Uni Soviet semakin ketat, melihat adanya satu wilayah seperti Korea yang bisa dikatakan seperti kehilangan arah tujuan dan mengalami kekosongan pemerintahan setelah lepas dari kekuasaan Jepang.

Latar Belakang dan Situasi Konflik

Ada berbagai alasan mengenai penyebab dari sering munculnya konflik di Semenanjung Korea. Beberapa penyebabnya antara lain dapat dikategorikan sebagai berikut :

Secara Geografis :

Bagian utara Korea berbatasan dengan wilayah Cina (Manchuria sebagai wilayah industri berat).

Bagian timur laut Korea berbatasan dengan sebagian wilayah Uni Soviet dan ada pelabuhan yang sangat penting bagi Uni Soviet serta adanya pangkalan armada laut Uni Soviet di Asia Pasifik pada era abad 19.

Bagian tenggara Korea merupakan wilayah perairan Jepang yang notabenenya sejak era post-Perang Dunia 2 merupakan sekutu terdekat Amerika Serikat di kawasan ini.

Pada awalnya, wilayah Korea merupakan bagian dari wilayah imperialisme Jepang pada era Perang Dunia 2, namun dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu pada Agustus 1945, maka wilayah Korea diambil alih oleh pihak Uni Soviet setelah Jepang kalah berperang dengan Uni Soviet pada tanggal 8  Agustus 1945.

Berdasarkan pada kebijakan containment AS, maka pihak Washington dan Moscow mengadakan suatu perundingan untuk membagi kekuasaan Korea secara garis 38 derajat lintang utara sehingga ada pembatasan wilayah demi alasan politik yang membentuk Korea bagian utara di bawah pengaruh Uni Soviet dan Korea bagian selatan berada di bawah pengaruh Amerika Serikat.

Pada tahun 1948, masing-masing pihak (USSR dan AS) mendirikan pemerintahan di masing-masing wilayah Utara dan Selatan. Korea Utara (Republik Rakyat Demokratik Korea) dengan ideologi komunis berada di bawah kepemimpinan Kim Il Sung, seorang mantan prajurit tentara merah Uni Soviet. Dan Korea Selatan (Republik Korea) dengan ideologi liberal berada di bawah kepemimpinan Syngman Rhee, seorang terpelajar yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk studi di AS dan sangat anti-komunis.

Pada tahun 1949 semua pasukan AS dan USSR ditarik dari kedua wilayah ini.

Pada bulan Juni 1950, pecahlah perang antara Korea Utara dan Korea Selatan dengan alasan perbedaan ideologi dan isu perbatasan menjadi isu yang sangat sensitif antara kedua wilayah ini karena pembatas wilayah bukan dianggap sebagai perbatasan antar negara.

Situasi di Dewan Keamanan PBB sedang terjadi boikot pihak USSR karena mendukung Cina untuk mengantikan Taiwan yang saat itu menjadi perwakilan, melihat situasi ini, AS memanfaatkannya dengan mencari dukungan dari PBB. Dan dengan dukungan inilah maka pasukan perdamaian PBB dan pasukan AS mendarat di Korea Selatan untuk memukul mundur pasukan Korea Utara dan USSR yang saat itu terlebih dulu menyerang Korea Selatan. Melihat semakin dekatnya pasukan AS dari perbatasan Korea Utara dengan Cina, maka pihak pemerintah Cina merasa terancam dan mengirim sejumlah relawan non-People Liberation Army untuk ikut berperang di sana.

Pada tahun 1953 perang berakhir dan pihak AS mengadakan perjanjian Mutual Security Treaty dengan Korea Selatan sehingga keberadaan pasukan AS dipertahankan guna mencegah terjadinya serangan dari pihak Utara. Lain halnya dengan China-USSR, mereka tidak menempatkan pasukannya di Korea Utara tetapi pengaruh ideologi Marxist-Leninist semakin kuat. Akhirnya pada tahun 1961 pihak USSR-China mengadakan perjanjian pertahanan dengan Korea Utara.

Keadaan Saat Ini

Walaupun perang antara Korea Utara dan Korea Selatan telah berakhir pada tahun 1953, namun konflik-konflik skala kecil masih sering terjadi sampai saat ini, terlebih konflik kepentingan politik dengan pergantian kepemimpinan pihak Korea Selatan. Kedua belah pihak sering mengadakan percobaan perundingan damai, namun pada akhirnya selalu gagal dan tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Gagalnya perundingan damai ini terlebih dikarenakan dengan adanya pembangunan kapasitas nuklir di Korea Utara yang secara langsung menyebabkan gangguan stabiitas keamanan kawasan tersebut. Pihak Korea Utara telah terbukti beberapa kali melakukan percobaan peluncuncuran senjata nuklirnya yaitu diantaranya adalah pada bulan Oktober 2006 dan Mei 2009. Menghadapi kepemilikan dan ancaman senjata nuklir Korea Utara ini, telah diadakan perundingan 6 negara yang diinisiasi oleh IAEA yang dikenal dengan nama Six Parties Talk antara Korea Utara, Korea Selatan, Jepang, Cina, Rusia dan Amerika Serikat. Namun perundingan ini sampai saat ini masih sulit dalam menemukan upaya untuk menekan niat dari Korea Utara untuk menghilangkan kepemilikan senjata nuklirnya. Senjata nuklir ini sering kali digunakan sebagai bargaining instrument Korea Utara dalam upayanya mendapat bantuan luar negeri.

Dampak dari adanya konflik di Semenanjung Korea.

Secara signifikan, dampak adanya Perang Korea ini dapat dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu :

  1. Dampak Ekonomi kedua belah pihak (Utara dan Selatan) :

Perang antar kedua pihak ini mengakibatkan hancurnya infrastruktur dan ekonomi negara.

Pada tahun 1970 ekonomi kedua belah pihak sempat seimbang, namun orientasi ekonomi Korea Utara lebih memprioritaskan pada kepentingan militer dibanding dengan kebutuhan rakyatnya sendiri. Korea Utara seringkali mengalami kekurangan makanan dan menyebabkan tingginya tingkat kematian penduduk akibat kelaparan. Korea Utara seringkali meminta bantuan dari luar negeri, tak terkecuali dari pihak Korea Selatan.

Berbeda halnya dengan Korea Selatan, mereka lebih menekankan pertumbuhan ekonomi dengan liberalisasi pasar dan perdagangan, sehingga perindustrian dan kemajuan ekonomi Korea Selatan maju dengan pesat dan menjadi salah satu Macan Asia.

2.  Dampak Politik :

Korea Selatan mengadopsi sistem politik yang demokratis, berbeda dengan sistem politik di Korea Utara yang komunis-sentralistik. Dengan sistem demokrasi, maka pihak militer meninggalkan perannya dari arena politik, sedangkan pihak Korea Utara lebih menekankan nilai hierarki struktur keluarga sebagai pemimpin berikutnya.

3.   Dampak Militer dan Keamanan :

Berdasarkan penjelasan yang telah dibahas sebelumnya, Korea Utara lebih menekankan ekonomi dalam upayanya meningkatkan kapasitas militer dan nuklirnya. Dengan adanya sikap dan pengaruh dari kepemilikan senjata nuklir ini, maka secara tidak langsung menyebabkan instabilitas kawasan Asia Pasifik, terlebih dengan beberapa percobaan peluncuran nuklir Korea Utara yang menurut data intelijen mampu menjangkau sebagian wilayah Amerika Serikat.

“The wrong war, at the wrong place, at the wrong time, and with the wrong enemy.”

Omar Bradley (1893 – 1981)

U.S. general.

Concerning a proposal by Douglas MacArthur, commander of United Nations forces in Korea, that the Korean War should be extended into China.

Said in evidence to a U.S. Senate inquiry.

3 responses to “Working Paper Summary : Konflik Semenanjung Korea dan Implikasinya (1953)

  1. sudah selyaknya kedua korea berpikir positif untuk mengakhiri konflik dengan memandang jauh ke depan ke arah kesejahteraan dan perdamaian, tetati tetap tidak menutup kemungkinan pula ntuk melancarkan serangan balasan jika diperlukan . melihat konstelasi politik dan kepentingan diantara kedua negara perlu adanya suatu pemikiran yang mmberikan solusi. suatu transparansi politik. Sudah ketinggalan zaman jika masih inngat tentang Uni soviet keadaannya gimana dahulu. Sekarang sudah lain episod-nya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • Mungkin semua masyarakat internasional juga menginginkan hal yang sama. Namun jika kita melihat dari perspektif sejarah, konflik ini merupakan salah satu konflik yang dapat dikategorikan sebagai protracted conflict, sama hal nya dengan konflik Arab-Israel. Jika kita bisa melihat sisi lain dari konflik ini, coba kita lihat bagaimana pemisahan Korea menjadi Utara dan Selatan adalah sebagai hasil dari persaingan AS dan Uni Sovyet pada era Perang Dingin. Politik buffer state merupakan salah satu peninggalan terburuk dari akibat adanya Perang Dingin. Ditambah perbedaan perspektif antara Utara dan Selatan, dimana Utara lebih memilih peningkatan teknologi nuklir ketimbang Selatan yang lebih memprioritaskan bidang ekonomi. Lalu juga ada masalah ideosinkretik seorang pemimpin Korea Utara, dari zaman Kim Il Sung sampai saat ini Kim Jong Il dan pemimpin Korea Utara berikutnya, dimana indoktrinasi di sana sangat lah kuat. Jadi saya mungkin bisa menyimpulkan bahwa konflik Korea tidak akan mudah diselesaikan, karena (dengan segala hormat) bahwa AS dan negara lainnya pun bisa memperoleh keuntungan yang besar dari adanya konflik ini, karena melalui konflik Korea ini lah AS bisa menjadikannya sebagai salah satu justifikasi keberadaan AS di kawasan Asia Timur.

  2. Pingback: 2010 in Review « - Dynamics Of International Relations -

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s