Working Paper Summary : Major Powers in Asia Pacific – US-China-Japan


USS Nimitz Carrier – US Pacific Command

Abstrak.

Keempat negara besar dunia – Amerika Serikat, Uni Soviet, Jepang dan China – secara geografis terletak di kawasan Asia-Pasifik. Dapat diperkirakan bahwa kenyataan ini cepat atau lambat akan mempunyai implikasi tertentu akan kawasan. Kenyataan beberapa tahun belakangan ini kita melihat suatu pergeseran politik internasional ke arah kawasan Asia-Pasifik.

Pergeseran tersebut menimbulkan ketidakpastian lain di kawasan Asia-Pasifik. Sampai sekarang kita tidak mengetahui dengan pasti hakekat interaksi antara keempat negara tersebut. Aliansi-aliansi baru yang dapat muncul dari perkembangan-perkembangan yang berlangsung bisa menunjang kestabilan regional dalam dasawarsa mendatang ini, tetapi kita dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa akan berkembang antagonisme yang menciptakan ketidakstabilan di kawasan.

Ulasan Singkat Konsep Geopolitik Asia-Pasifik.

Konfigurasi-konfigurasi kekuatan negara-negara Asia-Pasifik yang besar besar bersifat global dan oleh sebab itu mempunyai impak global. Akan tetapi impak mereka tidak sam adi seluruh dunia. Dengan sendirinya kita dapat memperkirakan bahwa kawasan Asia-Pasifik akan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam struktur interaksi di antara keempat negara global tersebut.

Setiap kawasan di dunia adalah unik. Pernyataan ini tampak basa-basi, tetapi harus membawa kita pada pertanyaan: “Apakah sah untuk mengatakan, bahwa suatu kawasan-dalam arti geografis- menegakkan dirinya sendiri menjadi suatu entitas sebagian besar karena kekuatan-kekuatan geografis yang aktif ?” Ilmu geopolitik, sebagai sarana untuk mengerti dan menerangkan perkembangan-perkembangan dunia, dianggap usang oleh sementara pihak. Akan tetapi sulit mengambil kesimpulan ini kalau kita mempelajari kawasan Asia-Pasifik dewasa ini.

Fokus Kajian Negara-Negara Besar : Amerika Serikat, Jepang dan China.

A. Amerika Serikat.

Awal mula dominasi Amerika Serikat di kawasan ini adalah pada era post-Perang Dunia ke-2. Dominasi Amerika Serikat dapat kita lihat secara politik, budaya, ekonomi dan militer. Setipa pemimpin memiliki cara berbeda dalam upayanya pencapaian national-interest, karakteristik itu dapat kita klasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu pemimpin kubu Republican lebih condong memaksimalkan penggunaan kekuatan militer, sedangkan kubu Democrat lebih meminimalisasi penggunaan kekuatan militer. Kubu Republican lebih menekankan pentingnya hubungan bilateral, sedangkan kubu Democrat lebih menekankan pentingnya hubungan multilateral.

Pada era Perang Dingin, Uni Soviet dan Cina selalu menjadi pesaing berat Amerika Serikat sehingga itulah yang menjadi alasan Amerika Serikat untuk mempertahankan posisi dan keberadaan pasukan militernya di kawasan ini.

Tetapi perubahan pola interaksi antara Amerika Serikat dan negara-negara tersebut berubah sejak adanya normalisasi hubungan Amerika Serikat dan Cina pada 1 Januari 1979, serta dengan runtuhnya kekuatan komunisme Uni Soviet pada tahun 1991. Kini pola persaingan pun berubah bukan lagi persaingan ideologi melainkan persainagn kekuatan ekonomi.

Namun perubahan ini tanpa disadari melahirkan kekuatan baru pula bagi pihak-pihak non-state actors ataupun rogue states. Amerika Serikat memandang ancaman dari pihak-pihak tersebut merupakan ancaman yang cenderung sulit untuk ditanggapi karena ambiguitas komunikasi antara Amerika Serikat dan pihak tersebut, sehingga kini Amerika Serikat lebih menekankan efektifitas peran intelijen.

Pola deterrence pun berubah dari yang semula bersifat one-size fits all menjadi deterrence yang dibuat khusus untuk ancaman-ancaman tersebut, diantaranya seperti menanggapi kekuatan terorisme global yang kini menjamur dimana-mana dan juga dengan munculnya Cina sebagai kekuatan ekonomi baru dunia. Posisi militer AS juga dirubah dari statis dan kini menjadi mobil.

B. China.

Cina secara geografis sepenuhnya berada di kawasan Asia. Inilah yang menjadikannya sebagai posisi krusial di kawasan Asia-Pasifik. Cina memiliki potensi sebagai pesaing dari berbagai sisi, khususnya sisi kekuatan ekonomi dan militer. Negara besar seperti AS dengan kemunculan Cina ini tentu saja memiliki harapan yang besar, terutama dalam upayanya melawan gerakan terorisme, proliferasi nuklir khususnya di Korea Utara, dan juga kasus-kasus narkotika dan pembajakan.

Kekuatan ekonomi Cina yang baru ini tentu saja merubah sebagian besar pola hubungan antara AS dan Cina, diantaranya ditandai dengan kurangnya pengaruh AS ke Cina dalam KTT antara AS dan Cina pada tanggal 29 Juli 2009 dalam upaya menanggulangi ancaman baru krisis finansial global. Dengan kekuatan ekonominya ini, Cina menjadikannya sebagai alat diplomasi yang ampuh dalam upaya menentukan posisinya dalam negosiasi internasional.

Kini pola hubungan Cina dengan negara lain juga telah berubah secara signifikan, yaitu diantaranya :

–          Dari mitra Amerika Serikat, kini menjadi independen.

–          Dari pendukung gerakan revolusi kini menjadi pendukung perdamaian dengan negara tetangga.

–          Dari negara yang dahulu terisolir kini menjadi aktivisme perdamaian (DK-PBB 1971)

Selain itu, Cina juga memiliki sebuah kebijakan One China Policy sebagai upaya menyatakan dirinya sebagai satu-satunya Cina yang sudah termasuk Hong-Kong, Macao, dan Taiwan. Kebijakan ini menjadi alat bagi Cina dalam mendapat pengakuan dari negara lain sehingga hal ini menjadi persyaratan utama bagi negara-negara yang ingin menjalin hubungan dengan Cina untuk mengakuinya terlebih dahulu. Selain kebijakan tersebut, ada pula kebijakan bahwa militer Cina tidak akan dikirim ke luar negeri untuk keperluan agresor, pertumbuhan ekonominya juga menganut paham quasi-capitalism serta mulainya Cina membangun hubungan multilateralism khususnya dengan negara-negara ASEAN.

Secara hegemoni, Cina juga menolak bipolarisme AS dan Uni Soviet pada era Perang Dingin, Cina berupaya mencapai kesetaraan tetapi tidak berupaya menjadi kekuatan hegemoni baru.

Dalam hubungan multilateralisme, Cina telah beberapa kali mencapai keberhasilan, diantaranya melalui kerjasama SCO (Shanghai Cooperation Organization) antara Cina, Russia, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan dan Kyrgyztan. Perjanjian ini adalah upaya Cina dalam menghadapi ketidakstabilan di kawasan Asia Tengah yang secara goegrafis mengancam wilayah Cina bagian barat. Selain itu Cina juga berperan aktif dalam perannya sebagai anggota Six Party Talks antara Cina-AS-Russia-Jepang-Korea Selatan-Korea Utara, dalam upaya menghadapi ancaman proliferasi nukilr Korea Utara.

C. Jepang.

Tidak berbeda jauh dengan Cina, Jepang juga merupakan kekuatan besar yang secara geografis sepenuhnya berada di kawasan Asia. Secara geografis berada di kawasan Asia, namun secara potensi Jepang sudah memiliki potensi global dan bahkan melebihi potensi negara-negara Barat.

Signifikansi kekuatan Jepang di kawasan Asia-Pasifik bisa dilihat dari kekuatan ekonomi serta industri dan teknologi Jepang yang tidak dapat diragukan lagi potensinya. Konfigurasi kekuatan Jepang secara militer juga dapat kita perhitungkan sebagai kekuatan yang besar. Sejarah kekuatan pertahanan Jepang dapat kita mulai dari era post-Perang Dunia ke-2, yaitu dengan kontrol penuh AS atas Jepang dalam bidang pertahanan sebagai upaya sanksi AS atas kesalahan-kesalahan Jepang dalam Perang Dunia 2. Dengan dirancangnya Pasal 9 UUD Jepang tahun 1951 yang menekan peran militer Jepang, maka dengan pasal itu Jepang tidak diperkenankan memiliki angkatan perang sehingga pertahanan Jepang sepenuhnya ditangani dan dijamin oleh AS.

Pada tahun 1954, Jepang membangun angkatan bela diri yang dianggap sebagai alat untuk membela diri dan bukan untuk melakukan agresi kepada negara lain.

Pada tahun 1981, Perdana Menteri Suzuki membuat sebuah kebijakan yang menyatakan bahwa pertahan maritim Jepang sejauh 1852km diambil alih sepenuhnya oleh Jepang. AS tetap mensuplai pendanaan pertahanan Jepang dan menjual alat-alat pertahanan kepada Jepang.

Pada tahun 1992, Undang-Undang International Peace Cooperation Law mensahkan pasukan bela diri Jepang sebagai angota United Nations Peacekeeping Forces.

Tahun 2004, angkatan bela diri Jepang dikirim ke Irak dalam upaya bantuan kepada AS. Namun pasukan Jepang hanya bertugas dalam mengirim kapal tanker untuk bahan bakar peralatan perang negara-negara sekutu.

Perihal peningkatan peran angkatan bela diri Jepang ini, maka timbulah reaksi dari negara-negara tetangga Jepang di kawasan Asia, diantaranya adalah :

–          Korea dan Cina merasa adanya persepsi ancaman atas kekuatan militer Jepang.

–          Namun Cina secara informal menyetujui doktrin PM Suzuki, terutama dianggap sebagai upaya containment Armada Laut Russia di Asia Pasifik (Vladivostok).

–          Opini publik Jepang sendiri, terutama dari kaum Pacifist yang notabenenya kaum anti-perang yang walaupun moniritas tetapi memiliki pengaruh besar, menolak keberadaan Angkatan Bela Diri Jepang.

Jepang menganggap dirinya sebagai negara normal yang seyogyanya memiliki angkatan perang yang normal seperti negara-negara lain dan punya hak untuk berperang. Namun sekali lagi, upaya AS pada era post-Perang Dunia 2 ini merupakan upayanya dalam mencegah timbul kembalinya kekuatan imperialisme Jepang.

Pemerintahan Jepang dari kubu LDP (Liberal Democratic Party) telah berkuasa selama kurang lebih 5 dasawarsa yaitu dari tahun 1955 sampai tahun 2009. Kubu LDP secara formal mendukung penuh kerjasama aliansi antara Jepang dan AS sebagai sokoguru.

Namun pada akhir Juli 2009, pemerintahan LDP kalah dalam pemilu Jepang dan digantikan oleh kubu dari Democratic Party of Japan yang mereformasi ketergantungan Jepang akan AS. Pemerintahan baru membangun independent diplomacy dengan beberapa kebijakan baru diantaranya mengenai modernisasi militer Jepang, keamanan kawasan (memindahkan pangkalan militer AS ke Okinawa), serta peran Jepang dalam upaya mendukung nuclear non-proliferation.

Tetapi perubahan kepemimpinan di Jepang ini tidak akan mengalami perubahan hubungan dengan AS secara signifikan, mengingat adanya ancaman yang sama dari Cina dan Korea Utara.

AS juga mengharapkan Jepang tetap menjadi benteng di Asia terutama dalam perannya sebagai pemain utama dalam upaya negosiasi nuklir Korea Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s