Working Paper Summary : Regionalisme di Asia Pasifik


Abstract.

Perkembangan politik internasional post-Perang Dunia 2 mengalami beberapa perubahan yang signifikan, salah satunya adalah perubahan substansi persaingan, dari persaingan yang bersifat militeristik ke arah persaingan ideologis. Dengan adanya persaingan ideologi 2 kekuatan adidaya dunia, Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka hal ini menyebabkan kedua pihak menyebarkan pengaruhnya (sphere of influence) ke semua kawasan dunia, tak terkecuali kawasan Asia Pasifik. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan terdorongnya negara-negara di kawasan untuk membangun sebuah organisasi kawasan demi menciptakan collective security dengan tujuan mencegah perluasan konflik dan mencegah domino effect dari “jatuhnya” suatu negara ke dalam salah satu ideologi.

Salah satu indikator dalam terbentuknya organisasi-organisasi kawasan di Asia Pasifik adalah dengan munculnya APEC yang berorientasi kooperatif ekonomi, dan juga ASEAN sebagai organisasi kawasan yang terbentuk dengan cita-cita awal membangun integrasi politik antar negara di Asia Tenggara serta membangun collective security terhadap ancaman ideologi komunisme dari Vietnam pada saat itu.

Kajian Singkat Mengenai Organisasi Regional.

Hal mendasar dari munculnya organisasi regional adalah adanya perbedaan prioritas. Organisasi regional pada umumnya dibentuk atas 3 tujuan utama, yaitu : integrasi politik, integrasi ekonomi, dan membangun collective security. Selain itu ada pula faktor pendukung seperti persamaan budaya dan kehidupan sosial.

Bentuk dari regionalisme itu sendiri dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu :

a. Tipe Tertutup (closed) dan Terbuka (open).

b. Tipe Mendalam (deep) dan Tipe Dangkal (shallow).

Karakteristik dari tipe closed adalah adanya kecenderungan untuk menurunkan tarif perdagangan hanya diantara anggota saja, sehingga akan muncul common market.

Karakteristik tipe opened adalah kecenderungan membangun free trade area yang berlaku bagi semua anggota dan semua negara yang mau berinteraksi dengan negara anggota.

Karakteristik dari tipe deep adalah mengikutsertakan masyarakat negara anggota secara luas, sehingga hasil kebijakan negara-negara anggota akan sangat terasa oleh masyarakatnya sendiri.

Dan karakteristik tipe shallow adalah dalam proses perumusan kebijakan-kebijakan, hal ini hanya dilakukan oleh elit-elit politik saja.

Fokus Kajian Organisasi Regional di Kawasan Asia-Pasifik.

A. ASEAN (Association of South East Asian Nations).

Dewasa ini, kegiatan-kegiatan ASEAN telah mendapatkan perhatian yang luas dari kalangan media-massa. Organisasi yang bermula dengan keanggotaan Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand ini merupakan forum politik regional antar pemerintah mereka untuk mencapai kesejahteraan dan keamanan bersama dalam pengertian yang luas. Tetapi pada dasarnya ASEAN masih menghadapi suatu masalah dalam kehidupannya. Masalah yang paling menonjol yang dihadapi ASEAN adalah masalah sosialisasi dan institusionalisasi organisasi dalam kegiatan politik di Asia Tenggara khususnya. Sosialisasi berhubungan dengan usaha-usaha guna mencegah terjadinya disintegrasi di kalangan ASEAN sendiri menghadapi berbagai tantangan yang timbul. Sedangkan institusionalisasi berkaitan dengan usaha untuk menghindari agar ASEAN tidak terjerat dalam suatu kehidupan yang sangat birokratis sehingga membatasi inisiatif dari kalangan swasta.

Dalam awal mula upaya pembentukan ASEAN, kita bisa melihat beberapa tujuan awal dibentuknya organisasi ini, yaitu :

1. Re-integrasi Indonesia ke dalam aktivitas hubungan internasional di Asia Tenggara, yang sebelumnya sempat mengalami konfrontasi antara Indonesia-Malaysia-Filipina antara lain karena masalah perbatasan wilayah dan klaim atas beberapa pulau di Indonesia.

2. Asia Tenggara saat itu merupakan sebuah area peace zone, dimana kawasan ini merupakan area pembendung efek dari penyebaran ancaman ideologi komunisme di Vietnam.

3. Pembangunan ekonomi / integrasi ekonomi ASEAN.

4. Permasalahan politik mendapat fokus utama dalam ASEAN.

Pada awal mulanya, ASEAN dianggap akan gagal seperti beberapa organisasi regional yang sebelumnya pernah terbentuk, tetapi dalam perkembangannya, ASEAN justru menunjukkan kegunaan dan keefektivitasannya dalam menangani berbagai masalah. Dan dalam perkembangannya juga, keanggotaan ASEAN bertambah secara signifikan dari awal mula 5 anggota menjadi 10 anggota pada tahun 1999 dengan masuknya Vietnam, Laos dan Kamboja (yang sebelumnya menjadi target pembendungan negara-negara ASEAN).

Jika dibandingkan dengan organisasi regional seperti Uni Eropa, tentunya ASEAN masih jauh berada di bawah Uni Eropa, namun tanpa dipungkiri, keefektifan ASEAN menempati dirinya sebagai posisi ke-2 setelah Uni Eropa dari semua organisasi regional lainnya di dunia.

Academic Judgement.

Menurut pendapat saya, dalam memandang kinerja ASEAN, seyogyanya kita menghilangkan stigma pembandingnya adalah Uni Eropa. Hal ini dikarenakan perbedaan yang sangat jauh antara kedua organisasi, diantaranya dengan struktur negara anggota yang jelas berbeda. Jika kita lihat, anggota Uni Eropa mayoritas adalah negara maju ataupun negara welfare yang tingkat kesejahteraannya sangat tinggi, maka dari itu integrasi politik, ekonomi dan keamanan akan lebih mudah tercipta dikarenakan pola pikir bangsa mereka yang sudah maju.

Tanpa mendiskreditkan ASEAN, kita bisa melihat keanggotaan ASEAN mayoritas adalah negara-negara berkembang ataupun negara industri baru seperti Singapura. Hal ini tentu saja akan menghambat tujuan integrasi dari ASEAN itu sendiri karena masing-masing negara cenderung lebih mementingkan self-interest ketimbang mencapai common-interest. Dengan hambatan seperti ini, kita bisa melihat fakta konkret seperti kecenderungan Indonesia dalam melakukan maksimalisasi kegiatan ekspor-impor dengan Singapura dengan harapan produk-produknya bisa merambah pasar Amerika Serikat. Integrasi ekonomi mungkin saja masih sulit untuk dicapai, namun jika kita melihat tujuan awal ASEAN, kita harus berbangga diri, karena tujuan awal membentuk collective security sudah hampir tercapai, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap kawasan pasti akan menghadapi ancaman konflik, tetapi dengan adanya organisasi regional seperti ini, niscaya mereka akan melakukan diplomasi prefentif guna mencegah penyebaran konflik agar tidak menjadi luas.

B. APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation).

Organisasi ini dibentuk dengan tujuan orientasi kerjasama ekonomi. Hal ini tercermin dengan dimasukkannya Taiwan dan Hongkong (2 dari Asian Tiger pada saat itu) ke dalam keanggotaan APEC. Jika dilihat dari karakteristik APEC, maka kita bisa mengkategorikan APEC ke dalam kategori open regionalism.

APEC dibentuk pada tahun 1989 sebagai inisiasi dari pemerintah Australia.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1994 diadakan sebuah pertemuan di Bogor yang menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenal dengan nama Deklarasi Bogor. Deklarasi ini merupakan upaya negara-negara anggota dalam membentuk kawasan Asia Pasifik menjadi kawasan free trade area yang berlaku bagi negara maju pada tahun 2010 dan pada negara berkembang di tahun 2020.

Namun muncul pesimistis yang menganggap hal ini merupakan sebuah impian belaka tanpa melihat situasi realita konkret.

Salah satu indikator kegagalan APEC adalah gagalnya APEC membantu negara-negara anggotanya khususnya negara berkembang yang terkena Asian Financial Crisis pada tahun 1997-1998. Pada saat itu yang bersedia membantu hanya IMF yang pada akhirnya hanyalah upaya bantuan semu dengan niat yang terselubung.

Kegagalan ini dipandang diakibatkan oleh kebanyakan anggota APEC mengalami perkembangan ekonomi bukan dikarenakan oleh kerjasama APEC dan juga kecenderungan AS untuk lebih mengutamakan kerjasama bilateral dengan Australia ketimbang kerjasama multilateral.

Selain itu APEC juga tidak memaksa anggota untuk mematuhi segala kebijakannya, tidak ada sanksi yang mengacam sehingga dipandang sebagai indikasi sebuah organisasi yang lemah.

Dalam APEC juga ada ketidakseimbangan antara perwakilan / representative dengan efektivitas organisasi.

Berbeda dalam isu politik, ternyata APEC cukup memainkan perannya dengan sangat baik, antara lain dengan adanya pertemuan informal antar kepala negara di sela-sela APEC Summit karena secara formal tentu saja APEC membahas mengenai agenda ekonomi.

Academic Judgement.

Menurut pendapat saya, kinerja APEC selama ini memang masih belum menemui upaya dan kebijakan konkret yang signifikan berpengaruh kepada negara anggota. Jika tujuan awal dari APEC adalah integrasi ekonomi, maka hal yang pertama kali harus dilakukan adalah dari negara maju yang selama ini cenderung melakukan kerjasama hanya sebagai dalih dalam upaya eksploitasi kepada negara berkembang. Dengan prinsip-prinsip neo-liberalisme yang ada, maka negara maju hanya akan mau bekerjasama jika ada hal yang dapat mereka manfaatkan dari negara berkembang. Hal ini merupakan hambatan yang sangat besar bagi kinerja dan keefektivan APEC. Jika APEC ingin mencapai integrasi ekonomi, maka harus ada komitmen yang kuat dan lebih mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat (diplomasi publik) sehingga hasil kebijakannya nanti juga akan berdampak secara langsung pada masyarakat luas.

“If an institution wants to be adaptive, it has to let go of some control and trust that people will work on the right things in the right way.”

Robert B. Shapiro (1938 – )

U.S. business executive.

Harvard Business Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s