Working Paper : U.S – China Relations and The New World Economic Order


*U.S – China Relations

source : http://www.thefacesblog.com/wp-content/uploads/2009/11/Picture-1.jpg

 

Abstrak

In this paper, the author discuss about what factors that make China appears as the new economic power in world. Gradually these phenomena makes the role of the United States which is known as the world leader since few decades ago threatened by the China’s newly emerging forces and influences to become a major power. The declining of US’ influences and economic power had been caused by a huge cost from Afghanistan & Iraqi War since 2001. At the end, author will predict about the relations and possibility of these phenomenons with the future of the World Economic Order.

Pendahuluan

Tak dapat dipungkiri bahwa Amerika Serikat adalah sebuah negara maju dan sebuah negara besar yang memiliki peran yang sangat penting dalam dunia internasional dan pasar global baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun militer. Namun saat ini juga muncul pesaing baru yang mulai dinilai menyaingi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Mungkin terlalu awal untuk mengatakan bahwa sosok ini telah menggeser posisi Amerika Serikat dalam dunia internasional dan pasar global namun kebangkitan sosok ini juga tidak bisa diremehkan. China saat ini sudah mulai menunjukkan kemampuannya dalam bidang ekonomi di pasar global dan bersiap untuk menjadi pesaing Amerika Serikat. Ada 2 faktor utama yang menyebabkan China dapat menguasai pasar global. Pertama, kebangkitan China dengan strategi-strategi dan etos kerja yang selama ini telah diterapkan di China, terutama setelah Deng Xiaoping mulai melepaskan belenggu ekonomi nasional pada tahun 1979. Setelah itu, pelebaran sayap China dalam bidang ekonomi menjadi lebih lagi dengan sedang menurunnya kemampuan Amerika Serikat dalam bidang ekonomi. Masalah krisis global dan besarnya dana untuk perang yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat menjadikan kebangkitan ekonomi China di pasar global sebuah ancaman yang layak untuk diperhitungkan.

Atas dasar munculnya fenomena tersebut, kami akan mengambil research questions :

  1. Faktor-faktor apa yang mendasari meningkatnya kapabilitas perekonomian China ?
  2. Mengapa pertumbuhan perekonomian Amerika Serikat melemah ?
  3. Bagaimana masa depan Tatanan Ekonomi Dunia di masa yang akan datang berdasarkan fenomena-fenomena seperti ini ?

China Sebagai Kekuatan Baru dan Faktor Pendukungnya

China saat ini sedang mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi. Hampir semua produk-produk China menyebar sampai ke seluruh dunia. China dinilai akan dapat menjadi sebuah kekuatan ekonomi adidaya selanjutnya dalam dunia global. Secara garis besar, dunia dapat dibagi dua menjadi negara maju dan negara berkembang. Jika negara maju dapat didefinisikan sebagai negara yang mampu menyeimbangkan pencapaian pembangunan yang dilakukan sehingga sebagian besar tujuan pembangunan sudah dapat terwujud baik yang bersifat fisik maupun non fisik dan memiliki beberapa ciri-ciri.

Ciri-cirinya antara lain seperti sebagian besar pendapatan negaranya berasal dari bidang industri, memiliki pendapatan perkapita yang tinggi, angka kematian di negaranya kecil, memiliki tingkat pendidikan tinggi, menguasai IPTEK, terpenuhinya fasilitas di segala bidang, sebagian besar penduduk tinggal di kota, keadaan ekonominya baik, dan ekspornya lebih tinggi daripada impor, maka China saat ini sudah dapat dikatakan sebagai negara maju.[1]

Kebangkitan China sebagai raksasa ekonomi berawal ketika Deng Xiaoping mulai melepaskan belenggu ekonomi nasional pada tahun 1979. Pada saat itu, Deng bertemu dengan Presiden AS Jimmy Carter. Tujuan Deng adalah  China yang kaya, modern, kuat, dan dia membuka pintu untuk hubungan baru dengan membangun hubungan dengan Barat. Ia meninggalkan banyak doktrin komunis ortodoks dan mencoba untuk menggabungkan elemen dari sistem perdagangan bebas ke dalam perekonomian Cina.[2]

Menurutnya, China harus keluar dari pola kontrol negara Maois dimana semangat kewirausahaan di China harus terus dimajukan. Selain itu, beberapa sifat kapitalis dan perubahan-perubahan yang dibutuhkan harus dapat diterima secara terbuka oleh China terlepas dari apapun dampak politik yang nantinya akan terjadi. Dalam menempuh jalan kapitalis, Deng melonggarkan kontrol ekonomi yang ada di China saat itu dan membuka Zona Ekonomi Khusus berupa kantong perdagangan bebas yang potensial dari sebuah liberalisasi ekonomi yang pada akhirnya mampu membawa rakyat China mulai meninggalkan kemiskinan hanya dalam waktu beberapa dekade. Tidak hanya dalam segi ekonomi saja, untuk menjadi sebuah kekuatan dunia, Deng Xiaoping juga melihat bahwa bidang pendidikan juga perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, mahasiswa-mahasiswa China harus diizinkan untuk belajar di luar negeri. Selain itu, China juga sebaiknya membuka diri bagi turis dan mahasiswa asing untuk datang ke China.[3]

Gerakan pembaharuan tersebut memicu munculnya “Demam China” oleh perusahaan-perusahaan asing. Tumbuhnya kekuatan ekonomi global China dengan majunya tekhnologi, maraknya pabrik-pabrik ekspor, pasar saham, meningkatnya surplus perdagangan dengan AS, dan penawaran akuisisi bagi perusahaan Amerika oleh China menjadi sebuah peringatan yang cukup nyata bagi para politisi dan pengambil kebijakan di Washington terhadap masa depan ekonomi Amerika Serikat.

Keberhasilan China tersebut tidak diperoleh dengan cara instan. Keberhasilan itu dirintis oleh pemerintah China sejak lama. Banyak usaha-usaha pemerintah China untuk membangun industrinya sehingga menjadi raksasa ekonomi seperti sekarang ini. Diantaranya, pemerintah China menempatkan diri sebagai pelayan dengan menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan oleh industri seperti menyediakan birokrasi perizinan yang mudah dan cepat (40 hari), membangun infrastruktur-infrastruktur yang menunjang seperti memperpanjang jalan raya, menyediakan pelabuhan yang mampu memuat banyak kapal, membangun PLTA yang besar untuk memenuhi pasokan listrik, selain itu, pemerintah China juga tidak tanggung-tanggung dalam mengarahkan orang-orang terbaiknya untuk menjadi pengusaha yang handal, bahkan sejak tahun 1990-an, Cina telah mengirimkan ribuan tenaga mudanya yang terbaik untuk belajar ke beberapa universitas terbaik di Amerika Serikat untuk mempelajari sistem ekonomi terbuka dan kebijakan pemerintahan barat, walaupun Cina masih menerapkan sistim ekonomi yang relatif tertutup. Setelah itu, para pemuda China lulusan dari universitas-universitas luar negeri tersebut yang sudah pernah bekerja di pusat-pusat riset teknologi di seluruh dunia, diiming-imingi dengan berbagai kemudahan agar mau kembali ke China dan mengabdikan ilmunya. Inilah yang menjadi salah satu faktor lebih rendahnya biaya pekerja di China karena artinya China tidak perlu membayar mahal bagi pekerja asing dengan memakai Sumber Daya Manusia dari negerinya sendiri yang akhirnya juga menyebabkan murahnya harga barang-barang China.

Tak jarang, karena mahalnya upah tenaga kerja di berbagai negara maju, negara-negara maju tersebut mendorong relokasi industri ke Cina yang menyebabkan banyaknya produk dengan nama besar asing berlabelkan “Made in China”. [4] Bahkan hampir pada semua barang yang dijual di Wal-Mart atau Home Depot berlabel “Made in China”, dan penutupan pabrik di Selatan dan Barat-Tengah AS adalah karena produksi beralih ke China.

Amerika Serikat cukup kebingungan terhadap keputusan yang akan diaplikasikan kepada China. Di satu sisi, sudah jelas bahwa telah terjadi banyak kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh eksportir China seperti adanya dumping, pencurian properti intelektual, masalah pembayaran untuk lembur buruh, dan masalah subsidi terhadap barang-barang China untuk mendapatkan harga di bawah pasaran. Namun  di lain pihak, AS tidak bisa menerapkan proteksionisme karena saat ini AS sangat bergantung pada pasokan barang-barang dari China sehingga jika barang-barang China yang masuk ke AS diberikan hambatan-hambatan perdagangan, yang terjadi justru penambahan biaya terhadap barang-barang tersebut dan menghilangkan manfaat yang bisa diberikan China.[5]

Beberapa pihak mungkin menilai, pada saat ini kekuatan dan pertumbuhan ekonomi China hanya terletak pada murahnya buruh, manipulasi mata uang, dan praktik dagang yang tidak adil. Namun harus kita lihat juga investasi besar China dalam bidang infrastruktur dan kemampuan manufaktur China yang berskala besar dan modern serta adanya peranan kuat dari perusahaan-perusahaan multinasional, pasar konsumsi yang sangat besar yang dapat dilihat dari besarnya jumlah penduduk di China, adanya persaingan domestik yang intensif, pasokan material dan komponen China yang sangat besar, dan pola pikir kewirausahaan yang responsif dan fleksibel. Kekuatan ekonomi China yang tumbuh sebesar 9,9% pada tahun 2005 telah melesat melebihi sebagian besar negara Eropa bahkan mengambil alih peran Jepang sebagai pedagang tingkat dunia. China bahkan telah mengalami peningkatan ekspor sebesar lebih dari 850% sejak 1990.

Masa setelah perang sebenarnya menyajikan 3 negara dengan kemajuan ekonomi yang menakjubkan. Tiga negara tersebut adalah Jepang, China, dan Korea Selatan. Namun yang membedakan China dari dua negara lainnya tersebut sehingga dapat melaju seperti sekarang ini adalah dua negara tersebut tidak memiliki cukup banyak penduduk seperti di China untuk mendorong pertumbuhan yang mendunia, atau mengubah permainan sepenuhnya dalam spektrum industri.

China memiliki penduduk berusia muda dalam jumlah besar, tabungan yang besar dan sejumlah tujuan yang masih harus mereka kejar untuk dapat terus tumbuh. Selain itu, China juga memiliki keterbukaan terhadap investasi luar negeri yang besar, tidak seperti yang dilakukan oleh Jepang dan Korea Selatan dulu. Tingginya tingkat investasi yang terjadi di China mengakibatkan terjadinya ledakan konstruksi di seluruh China. China menjadi satu dari sedikit negara yang membangun lokasi modern untuk memproduksi petrokimia, tapis silikon, monitor digital, mobil, baja, kapal, dan barang padat modal lain serta menjadi pemain baru industri-industri maju serta mampu menyebarkan pembangunan sampai ke wilayah-wilayah miskin dan menciptakan banyak lapangan kerja. Memang disamping banyaknya keuntungan-keuntungan dari banyaknya investasi-investasi tersebut, akan banyak sisi-sisi negatif yang akan juga dirasakan oleh China. Perbedaan lainnya yang terjadi antara China dengan Jepang dan Korea Selatan adalah adanya kontrol Beijing atas bank-bank dan mata uangnya sehingga China tidak begitu terkena dampak krisis keuangan pada akhir tahun 90 an dan membuat sistem keuangan China lebih bagus dan pembangunannya lebih seimbang.[6]

China merancang sebuah model ekonomi dimana birokrasi pemerintah mengembangkan industri dan properti secara ambisius dari Beijing sampai ke kota-kota paling kecil dengan tujuan untuk memobilisasi modal dalam jumlah besar dan untuk menarik investor. Selain kekuatan untuk menarik investasi dengan pertumbuhan infrastrukturnya, China juga memiliki sebuah kekuatan pasar yang tidak bisa diremehkan. Sekarang ini, China menjadi pasar  konsumsi paling penting di dunia bagi para investor. China menjadi customer telepon seluler terbesar di dunia, pasar mobil ketiga terbesar di dunia, dan sedang akan menjadi pasar PC, Televisi digital, dan layanan telkom broadband terbesar. Ledakan konstruksi dan manufaktur saat ini di China juga membuat China hampir secara sendirian menentukan harga dunia untuk semen, bajam tembaga, dan jenis-jenis material lainnya. Semakin majunya tekhnologi dan riset-riset yang terjadi di China juga telah menarik perhatian banyak pihak.  Walaupun masih terlalu cepat juga untuk mengatakan bahwa hasil-hasil yang dicapai oleh laboratorium-laboratorium China dapat melebihi Amerika Serikat ataupun mencoba menciptakan tekhnologi tingkat tinggi untuk masa depan seperti yang Amerika Serikat lakukan selama ini, namun para ilmuwan China saat ini sedang mencoba untuk membangun teknologi yang bisa digunakan pada masa sekarang yang jika dikembangkan terus menerus mungkin akan muncul ilmuwan-ilmuwan China yang dapat menghasilkan riset tingkat tinggi pada suatu saat nanti.

Kemungkinan itulah yang menarik perusahaan-perusahaan multinasional luar negeri mengucurkan dana jutaan dollar untuk membiayai dan membangun fasilitas pengembangan tekhnologi mereka tersebut.[7]

Dengan berakhirnya kuota tekstil internasional tahun 2005 lalu, separuh dari garmen yang diimpor AS diambil oleh China. Anggapan bahwa China hanya mampu memproduksi sebagian besar barang-barang murah dan ringan hampir tidak dapat dianggap benar lagi. Saat ini tidak hanya mainan, sepatu, jam tangan, dan perkakas-perkakas saja yang menjadi produksi China, namun beberapa pabrik-pabrik besar di Eropa dan Amerika sebagian besar juga sudah bergeser produksinya ke China dan beralih dengan memakai komponen-komponen, bahan-bahan, dan mekanis yang berasal dari China.

Hal tersebut terjadi karena harga barang-barang dan gaji pekerja China yang jauh dibawah harga-harga bahan dasar dan gaji pekerja di Eropa dan Amerika. Sampai saat ini pertumbuhan tinggi yang dialami ekonomi China dapat dinilai cukup dramatis.[8]

Salah satu masalah yang menjadi perbincangan di tengah kebangkitan China adalah masalah perdebatan apakah populasi China yang mulai menua akan menjadi masalah di kemudian hari. Namun, seorang ekonom bernama Hai Wen membantahnya dan menyampaikan pendapatnya mengenai hal ini, Hai Wen mengatakan:

“Perumahan bukan masalah, karena kami berbeda dengan AS. Orangtua punya tempat tingggal. Juga pendapatan mereka cukup untuk membeli makanan. Mereka punya uang yang paling tidak cukup untuk membiayai hidup. Namun yang paling mengkhawatirkan menyangkut perlindungan kesehatan mereka. Jadi solusinya adalah mengurangi nilai perlindungan kesehatan atau memperluas jangkauan perlindungan.”[9]

Dua kata yang pada saat ini menjadi cukup menakutkan bagi Amerika Serikat adalah “Harga China”. China mampu menawarkan harga 30%-50% lebih murah barang produksi mereka daripada barang produksi AS. Hal ini tentu saja menjadi sesuatu yang cukup menarik bagi konsumen. Buruh China adalah salah satu faktor penting terbentuknya “Harga China” tersebut. George Jones III, presiden Seaman pernah mencoba mengalahkan murahnya upah buruh China dengan otomatisasi namun pada akhirnya mereka tetap tidak bisa mengalahkan murahnya upah buruh China. Akhirnya walaupun mungkin saat ini industri Amerika Serikat masih berada di tingkat atas namun China sedikit demi sedikit merebut pangsa pasar Amerika Serikat.

Kebangkitan China Berdasarkan Aspek Psikologis

Dilihat dari aspek psikologis, kebangkitan China tidak lepas dari pola pikir dari masyarakatnya sendiri. Beberapa karakteristik utama dari pola pikir yang dimiliki kaum dewasa China pada saat ini adalah:

  • Individualisme : dimana dua pertiga kaum muda China lebih suka memilih barang-barang sendiri dibanding terus bergantung pada orang lain.
  • Keinginan mencari hidup yang lebih baik : mereka tidak puas dengan apa yang telah mereka miliki, oleh sebab itu, mereka rela mengambil resiko untuk mencapai kesuksesan dan menikmati hidup yang lebih baik lagi.
  • Memiliki ambisi karier : mereka bekerja sangat keras demi mencapai karier yang tinggi.
  • Wanita yang terbebaskan : hampir setiap pria mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga
  • Internasionalisme: para pemudanya tertarik dengan kebudayaan lain dan peristiwa internasional, namun walau bagaimanapun juga, tradisi yang mereka anut masih tetap tertempel kuat dalam kehidupan mereka sehari-hari.
  • Menghargai nilai ilmu pengetahuan : mereka menganggap bahwa informasi dan pengetahuan penting untuk modal bagi kehidupan yang lebih baik.
  • Lebih menikmati hidup : mereka berusaha menikmati hidup dengan meningkatkan pengalaman spiritual.
  • Kepedulian sosial : para pemuda China lebih peduli terhadap lingkungan dan sosial misalnya dengan menghargai perusahaan yang mendukung pengumpulan dana.

Melemahnya Perekonomian di Amerika Serikat Secara Bertahap

Sejak dahulu Amerika Serikat telah dikenal sebagai negara superpower baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun militer. Namun pada Komisi Peninjauan Ulang Ekonomi dan Keamanan AS-China melakukan konferensi pada 23 September 2004, yang dibahas bukan kekuatan Amerika Serikat melainkan kemunduran dan penjelasan akan dominasi yang mulai dilakukan oleh China sebagai pesaing atas industri AS mulai dari sektor produksi ringan sampai sektor industri teknologi tinggi.

Hal tersebut terkait dengan murahnya harga barang impor berkualitas tinggi yang ditawarkan oleh China yang tentu saja harga tersebut jauh di bawah harga pabrik Amerika Serikat. Hal tersebut menyebabkan banyaknya pabrik-pabrik di Amerika Serikat yang terpaksa gulung tikar.[10]

Tahun 2007 merupakan awal kemunduran ekonomi Amerika Serikat yang disebabkan oleh jatuhnya perusahaan-perusahaan real estate dan masalah finansial lainnya[11], tepatnya Desember 2007, perekonomian AS kehilangan sekitar 8 juta pekerjaan sektor swasta, dan tingkat pengangguran telah meningkat dari kurang dari 5 persen menjadi lebih dari 10 persen. Kedua perubahan angka tersebut lebih parah daripada resesi lainnya sejak Perang Dunia II[12].

Setelah diguncang oleh krisis hebat tahun 2008 tersebut, perekonomian Amerika kembali diguncang, hal tersebut sangat kontras seiringan dengan bangkitnya ekonomi China. Salah satu akar penyebab utama jatuhnya perekonomian AS adalah biaya perang Irak yang sangat menyedot anggaran negara. Pada tahun 2005 tercatat anggaran AS yang tersedot untuk  Perang Irak dan Afghanistan adalah sebesar 314 trilliun dollar. Bila dibandingkan dengan perang-perang sebelumnya, Perang Irak menghabiskan biaya yang paling besar. Sebelumnya Perang Korea menghabiskan dana anggaran AS sekitar 430 trilliun dollar, Perang Vietnam sekitar 600 milyar dollar, dan untuk Perang Irak diperkirakan akan melebihi 700 milyar.

Biaya perang Irak yang melambung tinggi menjadi akar keterkaitan dengan masalah-masalah lainnya, seperti akan mempengaruhi kemampuan ekonomi AS dan instrumen lain yang dijalankannya. Masalah pertama yaitu, akibat tagihan biaya perang yang tinggi masyarakat secara tidak langsung dibebani oleh pajak domestik yang meningkat. Kenaikkan pajak akan serta merta membuat pendapatan masyarakat berkurang dan juga ikut mempengaruhi daya beli masyarakat. Tentu saja hal ini adalah kesempatan bagi pasar produk China yang murah menguasai pasar AS, sebagaimana pada perjanjian bilateral antara AS dengan China mengenai pengurangan tarif perdagangan.

Masalah kedua penurunan ekonomi AS yang disebabkan oleh perang Irak adalah meningkatnya harga minyak yang sangat tinggi. AS adalah salah satu negara pengimpor minyak mentah terbesar di dunia, sebelum perang harga minyak hanya US$ 25 per barel ketika perang berlangsung harga meningkat pada kisaran US$ 80-US$ 120 per barel.

Dengan kenaikkan ini, pemerintah AS harus mengeluarkan dana tambahan paling tidak sejumlah  US$ 400 juta dari anggaran untuk pubic expenditure (pembelanjaan publik)[13].

The New World Economic Order ?

Kebangkitan Cina menjadi fenomena tersendiri dalam perpolitikan internasional. Cina mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam berbagai bidang. Perdagangan asing digunakan sebagai kendaraan utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sehingga Cina pun memfokuskan diri dalam hal tersebut dan kemudian mendirikan lebih dari 2000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi hampir 1,25 milliar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita, Cina menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Cina adalah $1.300. Perkembangan ekonomi Cina diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Cina. Selain itu, kekuatan ekonomi Cina ditunjukkan dengan proses industrialisasi yang mapan dan hasil prosuksi yang besar juga. Dibanyak industri, terutama industri padat karya, Cina menjadi pemain global yang dominan saat ini. Pabrik-pabrik Cina memproduksi 70% mainan, 60% sepeda, setengah industri memproduksi sepatu, dan sepertiga industri memproduksi tas di dunia. Cina juga memproduksi setengah oven microwave di dunia, sepertiga televisi dan perangkat AC, seperempat mesin cuci di dunia, dan seperlima lemari esnya; produk ini menunjukan pesatnya pertumbuhan ekspor Cina.[14]

Disaat Cina mengalami peningkatan ekonomi dan kemajuan yang cukup pesat dalam berbagai bidang, di sisi lain Amerika justru mengalami penurunan dalam hal ekonomi akibat resesi ekonomi yang terjadi beberapa waktu lalu. Hal tersebut kemudian menimbulkan berbagai spekulasi bahwa jika kemudian dalam kurun waktu yang akan datang, perekonomian dunia yang selama ini lebih banyak dipegang oleh negara-negara barat terutama Amerika sebagai adidaya ekonomi, akan beralih ke tangan Cina.

Pada 2040 mendatang, diperkirakan produk domestik bruto (PDB) China sudah melampaui Amerika Serikat. Hal ini membuat China akan menjadi negara ‘adi kuasa’ dalam bidang ekonomi, dan diperkirakan mendominasi konstelasi geo-politik internasional.
Dengan pergeseran ini, kekuatan ekonomi dunia akan terpecah menjadi tiga kutub, yaitu Amerika dengan Amerika Serikat, Meksiko, dan Brasil sebagai kekuatan intinya, Eropa dengan Rusia, Jerman, Inggris, dan Perancis sebagai penggeraknya, serta Asia dengan China, Jepang, dan India sebagai pusatnya.

Dalam 25 tahun terakhir, ekonomi Asia tumbuh rata-rata 7,3 persen per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan lainnya. Pada kurun waktu yang sama, kawasan Amerika Latin dan Afrika hanya tumbuh rata-rata 2,6 persen dan 2,8 persen per tahun.[15] Dengan pertumbuhan seperti itu, maka tidak menutup kemungkinan jika kelak perekonomian yang selama ini cenderung digerakkan oleh Amerika Utara dan negara-negara Eropa Barat lainnya akan berubah dan bergerak ke Asia dengan China, Jepang,  dan India sebagai pusat dari perekonomian tersebut.

Banyak hal yang kemudian menyebabkan Asia diprediksi menjadi penggerak perekonomian dunia kelak. Semakin banyak dan meningkatnya migrasi bisnis ke Asia menjadi stimulus tersendiri bagi pergerakan ekonomi. Sebagai contoh  Singapura secara sporadis berusaha keras memperbaiki infrastrukturnya untuk menarik korporasi global memindahkan kantor pusatnya ke negara tersebut. Saat ini, posisi Singapura sebagai surga belanja sudah hampir digantikan oleh Malaysia, tetapi reposisi barunya justru mendorong nilai penanaman modal asing (PMA) yang luar biasa.

Banyaknya kepentingan politik yang berada dalam kapitalisme negara-negara barat, membuat semakin banyak negara-negara non-barat yang akhirnya memutuskan untuk menjauh dari sitem kapitalime itu sendiri. Sebagai contoh, Thailand dan India menolak dengan tegas bantuan dari negara-negara donor terhadap negara mereka dikarenakan banyaknya ‘hal-hal’ dibelakang bantuan-bantuan tersebut.

Jadi ketika saat ini hegemoni kapitalisme dengan negara-negara Barat terutama Amerika mengalami kemunduran di bidang ekonomi sedangkan di sisi lain negara-negara Asia seperti India dan terutama Cina mengalami kebangkitan dan kemajuan yang sangat pesat di segala bidang terutama dalam hal ekonomi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa sistem perekonomian dunia pun akan terkena dampaknya lalu kemudian mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Amerika yang saat ini mengalami resesi ekonomi yang cukup besar dan mempengaruhi perekonomian global justru dihadapkan dengan Cina yang semakin melebarkan perekonomian serta kerjasamanya dalam bidang tersebut dengan negara-negara lain baik dikawasan Asia maupun diluar Asia itu sendiri.

Keadaan Cina saat ini tidak menutup kemungkinan akan menjadikan Cina dan kawasan Asia sebagai penggerak perekonomian dunia kelak.

Kesimpulan

Kondisi perekonomian China kini sudah jauh berkembang pesat dibandingkan dengan perekonomiannya beberapa dekade lalu. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, dimulai dengan perubahan paradigma perekonomian China oleh Deng Xiao Ping yang meninggalkan paham Maois ortodoks dan mulai beradaptasi dengan beberapa prinsip pasar bebas. Seiring dengan perubahan waktu, China mulai membuka diri terhadap dunia luar terutama dengan melihat peluang-peluang pasar global dan kuatnya penetrasi produk-produk ekspor China dengan harganya yang relatif murah. Lain halnya dengan Amerika Serikat, dalam kurung waktu 10 tahun terakhir, perekonomian AS hampir sebagian besar dihabiskan untuk perang di Afghanistan pada tahun 2001 dan juga di Irak tahun 2003. Perang yang terus menerus berlangsung hingga saat ini, menyebabkan biaya yang dikeluarkan sangat banyak dan menguras perekonomian Amerika Serikat. Di Afghanistan saat ini setiap bulannya menghabiskan biaya 40 miliar dollar. Selain untuk biaya perang dan program-program militernya, AS juga pada akhir tahun 2007 mengalami krisis perekonomian yang disebabkan macetnya kredit properti perumahan serta runtuhnya sebuah bank terbesar kedua di AS. Krisis finansial pada tahun 2007 ini membutuhkan waktu recovery yang cukup lama dan sampai sekarang belum sepenuhnya kembali normal. Lalu jika melihat mengenai masa depan tata perekonomian dunia, sudah bisa terlihat dengan munculnya G-20 sebagai wujud bergesernya tata perekonomian dunia. Kini negara-negara besar tidak bisa lagi mendominasi dan mengatur tata perekonomian dunia, negara-negara berkembang banyak yang sudah mulai bangkit dan muncul sebagai kekuatan perekonomian dunia, termasuk China.

Dengan munculnya peran negara berkembang seperti ini dapat menyebabkan pergeseran pergerakan perekonomian dunia, dari negara-negara besar seperti AS dan Eropa Barat, ke arah negara-negara Asia seperti China, Jepang, Korea, India, beberapa negara ASEAN, dan juga beberapa negara di Amerika Latin seperti Brazil.


[1] Chocomarble, 2008, Penertian & ciri-ciri negara maju dan berkembang, http://www-chocomarble.blogspot.com/2008/09/geografi-negara-maju-dan-negara.html diakses pada tanggal 24 Februari 2010  pukul 10.10

[2] Encylopedia Britannica, …, Deng Xiaoping, www.britannica.com/EBchecked/topic/157645/Deng-Xiaoping diakses pada tanggal 24 Februari 2010 pukul 12.05

[3] Parafrase, Jonathan Spence, …, Deng Xiaoping The Maoist who reinvented himself, transformed a nation, and changed the world Maois yang diciptakan kembali dirinya, mentransformasikan sebuah bangsa, dan mengubah dunia, http://www.time.com/time/asia/2006/heroes/nb_deng.html diakses pada tanggal 24 Februari 2010 pukul 12.39

[4] Parafrase, Muhammad Subair, …, Rahasia di Balik Kesuksesan Produk Cina Menguasai Pasar Dunia, http://bair.web.ugm.ac.id/Rahasia_Dibalik_Kesuksesan_Produk_Cina.htm diakses pada tanggal 24 Februari 2010 pukul 10.35

[5] Ibid.

[6] Pete Engardio, 2008, CHINDIA Strategi China dan India Menguasai Bisnis Global, Gramedia: Jakarta

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Leonhardt, David,United States Economy. ”New York Times”. 13 Agustus 2009. Diakses dari http://topics.nytimes.com/top/reference/timestopics/subjects/u/united_states_economy/index.html?scp=2&sq=recession%20economic%20america%20growth%20china&st=cse. Pada 01 Maret 2010

[12] Ekonomi AS Semakin Mundur Di Masa Depan. “Suara Media”. 18 November 2009. Diakses dari http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/ekonomi/12869-bernanke-ekonomi-as-semakin-mundur-di-masa-depan.html . Pada 01 Maret 2010

[13] Alhumami, Amich. Biaya Ekonomi, Sosial, Politik Perang Irak.  ”Koran Indonesia”. Diakses dari http://www.koranindonesia.com/2008/04/30/biaya-ekonomi-sosial-politik-perang-irak/ . Pada 28 Februari 2010

[14] The Chinese Century, DR. Oded Shengkar, penterjemah Rita Setyowati, PT. Bhuana Ilmu Populer, 2005, hal. 3

[15] 2040 Cina Jadi Penguasa Ekonomi Dunia, http://www.indogamers.com/f144/china_dan_india_ akan_mendominasi_ekonomi_dunia-11589/index4.html

*) Paper ini merupakan paper yang dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Politik Internasional. Disusun bersama Jeanita Esther, Yanny Livana dan Isabella.

4 responses to “Working Paper : U.S – China Relations and The New World Economic Order

  1. menarik melihat kemajuan Cina sekarang dengan berbagai kemajuan yg dialaminya..
    saya minta izin untuk mengutip beberapa kalimat Anda.

    saya mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin.. saya berharap bisa berdiskusi lebih jauh dengan Anda tentang Cina ini..

    Terima Kasih

    • Ya memang sangat menarik jika melihat fenomena ini sebagai paradigma baru Balance of Power di era Post-Cold War.
      Mengagumkan jika kita melihat apa saja yang dilakukan Cina dalam upayanya untuk membentuk kekuatan baru di kawasan Asia Pasifik dan level dunia.
      Amerika Serikat memang dalam 1 dekade terakhir sedang mengalami guncangan ekonomi yang cukup besar, ditambah biaya operasional perang yang semakin menggunung.
      Cina kini mulai bisa dianggap sebagai ‘saingan’ terkuat Amerika Serikat, baik dari segi ekonomi, politik maupun militer.
      Silahkan mengutip kalimat yang diinginkan, jika ingin sharing lebih lanjut bisa melalui blog ini atau ke email saya di eduard.1105@alpharian.com
      Senang sekali jika bisa saling bertukar pandangan dan informasi dengan anda. :)

      Regards,
      Eduard

  2. boleh share? …. setidaknya 2 tahun lalu sy tidak menyibukkan diri membaca isu2 ini kecuali saat ini ketika mendekati isu macam2 soal bencana ekonomi ketika dollar runtuh, & soal china… sy tidak bisa membayangkan bila ini akan memicu perang karena sikap arogansi sebagian orang amrik yg mudah dipancing emosinya untuk perang ketika mengetahui dirinya menjadi budak bangsa lain semisal china suatu ketika? Bagi sy, membaca NWO kembali kepada sumbernya, who’s NWO? NWO bukan Amrik ataupun bukan China itu sendiri. Pendiri & pensuport NWO bisa berada di negara mana saja, Indonesia, Rusia, atau Swedia, bahkan mungkin saat ini sedang berlibur ke China atau pantai Carribean dg segelas coctail. :) Jadi lupakan arti batasan juridiksi, ekonomi bukan soal negara mana, tapi personaliti, grup orang2 yg menentukan bentuk ekonomi itu sendiri (Roundtable Rich Family etc), bentuk inflasinya dstnya termasuk soal mata uang. Rasanya isu NWO bahkan sudah bergema & sedikit banyak diketahui para orang tua sebagai Dajjal yg sudah memulai pekerjaannya dari 300 tahun silam lebih, memulai proses pengerukan kekayaannya dari tanah Afrika untuk menguasai Financial Inggris dengan politik Money as Debtnya, lalu berlanjut ke Prancis hingga Rusia dg segala revolusi2nya yg terakhir pada saat bersamaan ketika ia menguasai Rusia ia telah membentuk revolusi di Amerika… perang2 yg tiada akhir hingga berlanjut ke timur tengah hanpir satu abad ini.

    Saat ini isu semakin gencar tentang kolapsnya dollar, bicara dollar bicara NWO pencetusnya di belakang Mr FED, & seperti di ketahui ia hanyalah sekumpulan manusia2 Jack Sparrow dunia (alias para penipu) menipu siapa saja, tentu dengan tipuan uang2 fiatnya. Mereka senang membuat senjata, lalu menjual kepada kedua belah pihak untuk saling membunuh (tipuan samiri pada masa Musa & Harun dg patung anak lembunya) namun dengan akibat hutang & inflasi yg membuat ekonomi semakin terpuruk, jadi, NWO pada prinsipnya bagi saya hanyalah kumpulan keturunan2 Samiri yg membalas dendam di masa lalu setelah pengusiran nabi Musa untuk kembali lagi membuat tipuan yg lebih canggih tentang Uang. Money as Debt, rasanya itu larangan di semua kitab tentang Riba yg akhirnya dihalalkan melalui kekuatan2 tipu daya terhadap instrumen2 pemerintahan dari Lawyer hingga militer sebagai alat yg menjaga aset2 si Kaya namun tidak memperdulikan orang2 miskin. Dan setiap presiden tak lebih para pekerja yg melindungi kepentingan2 si Kaya dengan aset militernya. itu saja. Saya bosa untuk berpura-pura, karena saya tahu, makanan saya menjadi haram ketika berpura-pura mengatakan ini.

    Semoga anda cerdas yg berahklak mulia. Karena sy yakin, gambar Kennedy pada wall anda meyakinkan sy, dia seorang humanis yg “tidak” menginginkan Perang sebagai cara untuk menyelesaikan persoalan, jelas2… setiap ada presiden2 yg menginginkan perdamaian dg kedaulatan atas pencetakan uang selalu harus berakhir dg kematian. End, Slesai. Kematian Gadafi akhirnya menjelaskan persoalan itu kepada dunia ketika ia mencoba merubah system curency mata uangnya menjadi Dinar (Gold) lalu akhirnya di bunuh.

    Smoga Keadilan akan turun langsung dari Yg Maha Kuasa. Dan semua kebohongan2 akan terpenggal. Berharap Rotshchild Family, Rockefeller, JP Morgan & smua teman2 fasisnya akan segera terbunuh, di buru untuk di adili di tengah2 umat manusia. Mereka… jelas2 adalah Dajjal!

    • Terima kasih bung atas komentarnya yang komprehensif dan sangat menarik. Betul sekali apa yang anda katakan, semua memang selalu berkaitan dgn high-level conspiracy elit-elit decision maker maupun para penasihat di belakangnya. Sedikit menambahkan juga, tentu kita ingat salah satu faktor invasi AS ke Irak pada tahun 2003 yg sesungguhnya adalah bukan karena WMD maupun senjata pemusnah lainnya, melainkan kekhawatiran AS atas upaya Saddam yang ingin mengkonversi transaksi minyaknya dari Dollar ke mata uang lain yaitu Euro. Berkaitan dgn Kennedy, saya sangat mengagumi nya, baik sebagai individu, presiden, pacifist, terlebih sebagai salah satu decision maker terbaik atas perannya yang amat krusial pada peristiwa Cuban Missile Crisis. Dan memang harus diakui bahwa tidak mudah menjadi agent of change ketika harus melawan sebuah sistem yang sangat kuat, seringkali nyawa yang menjadi taruhannya, contoh nyata pada tokoh-tokoh seperti Kennedy dan tokoh lainnya yang anda sebutkan di atas. Terima kasih dan salam kenal. Best regards, Eduard.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s