Review, Working Paper : Pluralisme – Decision Making, Transnasionalisme, dan Interdependensi


A. MAJOR ACTORS AND ASSUMPTION : A SUMMARY

Kaum Pluralist melihat hubungan internasional dibagi ke dalam 4 kunci asumsi, yaitu :

1. Non-state actors adalah suatu kesatuan yang penting dalam politik internasional.

Organisasi internasional, sebagai contoh, menjadi independen dalam beberapa issue dengan adanya hak-hak yang mereka miliki.

Organisasi internasional juga memiliki peran yang sangat penting dalam mengimplementasi, memonitor, dan menjadi perhitungan dalam proses pembuatan keputusan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi transnasional seperti MNCs, memainkan peran yang sangat penting dalam situasi politik internasional saat ini.

Selain organisasi MNCs, organisasi non-state seperti kelompok teroris, pedagang persenjataan, dan gerakan gerilya juga merupakan kelompok yang memiliki dampak yang patut diperhitungkan.

2. Bagi kaum pluralist, state is not a unitary actor.

Hal ini dikarenakan karena adanya individu yang bersaing, interest groups, dan lembaga birokrasi.

Berbagai pihak memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang masalah-masalah politik luar negeri. Kompetisi, koalisi, dan kompromi merupakan suatu hal yang menjadi fenomena baru dalam situasi politik internasional.

State tidak bisa dipandang sebagai sebagai satu-satunya aktor, sebab tidak bisa menghilangkan suatu keberagaman dari para aktor-aktor lainnya, interaksi terjadi antar para aktor, dan pengaruh-pengaruh yang berasal dari luar batas wilayah suatu negara adalah sama pentingnya dengan pengaruh-pengaruh yang ada di dalam negara tersebut – nilai-nilai dan gagasan, organisasi internasional dan organisasi transnasional, interest groups, dan opini publik merupakan suatu hal yang esensial.

3. Kaum pluralist menantang asumsi kaum realis yang mengatakan bahwa negara sebagai aktor yang rasional.

Kaum pluralist memandang dalam sebuah negara ada berbagai macam kepentingan, tawar-menawar, dan dibutuhkan berbagai kompromi yang disadari tidak selalu menghasilkan proses pembuatan keputusan yang rasional. Adanya misperception dan birokrasi politik mungkin  saja mendominasi dalam pembuatan kebijakan, mendorong ke arah lahirnya kebijakan yang terkadang bersifat suboptimal atau jauh dari yang terbaik demi sasaran mencari kedudukan.

4. Bagi kaum pluralist, the agenda of international politics is extensive.

Selain perhatian penting terhadap hal keamanan nasional, kaum pluralist juga memandang penting mengenai hal ekonomi, sosial, dan ekologi yang dihasilkan dari adanya peningkatan interdependensi di antara negara-negara pada era abad ke-20 ini. Pluralist juga memandang mengenai hal perdagangan, moneter, dan isu energi yang menjadi bagian penting dalam agenda internasional. Perhatian kaum pluralist juga tidak luput dari fenomena masalah populasi dan kelaparan di beberapa bagian negara Dunia Ketiga dan juga mengenai permasalahan polusi dan degradasi lingkungan internasional. Negara tidak hanya mementingkan mengenai issue keamanan dan militer, tapi juga pentingnya perhatian mengenai masalah ekonomi dan kesejahteraan sosial. Maka dari itu kaum pluralist menentang asumsi kaum realis mengenai keamanan sebagai main issue dalam politik internasional, karena masalah sosioekonomi juga sederajat dengan masalah keamanan suatu negara.

 

B. LIBERALISM

Liberalisme mempengaruhi pluralisme dalam dua aspek, yaitu liberalisme sebagai filosofi politik dan kelompok kepentingan liberal sebagai pendekatan terhadap studi politik domestic. Sebagai pedoman untuk menyangkal  pandangan bahwa Negara adalah satu-satunya actor dalam kehidupan politik, pluralism memakai pandangan liberalisme yang mempercayai bahwa pemuatan keputusan dan transnasionalisme, yang sangat merefleksikan pentingnya actor non-state.

Konsep-konsep, argument-argumen, dan perspektif dari liberalism yang mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung imej politik internasonal bagi pluralis adalah pentingnya level analisis individual, Negara yang tidak bersatu terpecah menjadi beberapa komponen, hubungan yang intim antara politik dan ekonomi internasional, peranan opini public, pentingnya organisasi dan hukum internasional, dan kemampuan pemimpin untuk mempelajari kesalahan dan kekacauan dari masa lalu.

Beberapa pluralis terpengaruh oleh pendapat liberal tentang negara disagregat dengan penekanan pada individual, namun beberapa pluralis juga dipengaruhi oleh optimisik dari liberalis tentang kemungkinan perdamaian dan harmoni di dalam sistem internasional.

B.1 Interest Group Liberalism.

Akar dari gambaran politik pluralis internasional berpegang pada banyak pandangan dari sarjana order politik yang domestik. Proses politik internasional tidak jauh berbeda dan bisa dipertimbangkan sebagai perluasan, yang diselenggarakan diantara batas-batas yang diberikan oleh negara.

Sebagai hasilnya pluralis cenderung menolak perbaedaan dari realis antara “internasional” dan “domestic” politik. Bagi pluralis, yang satu merupakan perluasan dari yang lainnya. Pandangan ini cukup jelas dalam literature dalam point dari pembuat keputusan, bagaimana mereka menggambarkan situasinya bukan dari perspektif analis, tetapi dari sumber – sumber yang berpotensi dai aksi negara yang ditemukan dalam setting pembuat keputusan.

Snyder mengembangkan kerangka pembuatan keputusan yang terdiri dari banyak factor. Pekerjaan yang dipertimbangkan melalui usaha pioneering, bahwa kebijakan luar negeri harus dipelajari secara scientific. Snyder berargumen untuk pertimbangan sistematik dari beberapa factor yang mungkin dapat mempengaruhi darah daging dari pembuat keputusan  Kerangkat tersebut menerangkan bahwa perpsepsi merupakan bagian dari pembuatan keputusan  dan peraturan non pemerintah mempengaruhi proses kebijakan luar negeri.. Faktor – faktor ini merupakan  bagian dari domestic,internasional, dan operasi pembuatan keputusan. Oleh karena itu factor – factor pluralitas memberi banyak keuntungan. Walau hal tersebut merupakan sesuatu yang baru dan alami, tetapi kerangka dari Snyder gagal untuk menghasikan satu studi kasus empiris yang utama. Apa yang dilakukan malah menjauhkan suatu fokus analisis dari negara yang abstrak.

Walaupun banyak variable yang digunakan, studi ini berkomitmen untuk mengembangkan pola umum suatu proses dalam kebijakan luar negeri suatu negara.

B.2 The Individual and Small Group.

Salah satu konsep dasar pluralisme adalah keputusan dibuat oleh individual. Sebuah organisasi birokratik seperti Departemen Luar Negeri terdiri dari kumpulan individu, individu itulah yang kemudian menentukan arah kebijakan politik luar negeri suatu negara.

Pluralisme mengambil konsep psikologi kejiwaan dan psikologi sosial yaitu psikohistorik atau psikologi sejarah yang berasumsi bahwa keputusan seseorang dimasa kini dipengaruhi oleh pengalamannya dimasa lalu. Dengan kata lain, kebijakan politik luar negeri suatu negara ditentukan oleh pengalaman dan ideologi orang yang mengambil keputusan tersebut.

Selain itu puralis juga mengambil hasil pemikiran Robert Jervis yang menyoroti pengaruh emosi yang dapat mempengaruhi keputusan seseorang, keputusan seorang pengambil kebijakan amat dipengaruhi oleh emosi yang terbentuk oleh situasi dan kondisi orang tersebut.

Jervis juga mengatakan pola pikir seorang pengambil keputusan juga menentukan arah kebijakan politik luar negeri suatu negara, sebab dalam mengambil keputusan ideologi dan pola pikir (yang dibentuk oleh pengalaman) amat berpengaruh untuk menghadapi ketidakpastian dalam dunia yang komplek.

Irving L. Janis menambahkan kecenderungan tekanan sosial di dalam sebuah kelompok, tendensi ini disebut groupthink. Maksud dari pemikiran Janis adalah pola pikir seseorang dalam kelompok berbeda dengan pola pikirnya ketika sedang sendiri.

 

B.3 Organizational Process and Bureaucratic Politics.

a. Allison’s Bureaucratic Politics Model :

Suatu bentuk koalisi atau kerja sama antara individu-individu yang berbeda di dalam suatu lingkungan yang bersifat kompetitif untuk menghasilkan suatu kebijakan. Fokus : Individu-individu yang berada di dalam posisi teratas di suatu organisasi dimana mereka memiliki kemampuan untuk menggalang kekuatan dan mempengaruhi orang lain.

Kebijakan yang dihasilkan dari koalisi tersebut merupakan kebijakan yang bertujuan untuk mengumpulkan kekuatan yang besar dan biasanya mencakup keputusan serta tindakan yang harus dilakukan.

b. Robert Keohane, Joseph Nye :

Organisasi yang bersifat privat maupun publik dapat berkuasa melebihi batas negara, membuat koalisi antar negara, seperti aktor transnasional dapat bekerjasama antar aktor negara lain yang berorientasi pada kepentingan mereka dan juga kepentingan negara lain. Selain itu mereka juga dapat bekerja sama dengan pemimpin negara yang memiliki kekuasaan formal untuk membuat keputusan.

 

C. TRANSNATIONALISM

C.1 Modernization

Dapat didefinisikan sebagai sosial, politik, ekonomi yang merupakan prasyarat sekaligus konsekwensi dari proses industrialisasi dan perkembangan teknologi. Pendukung dari perkembangan teknologi ini adalah adanya kontrol alam yang besar, perkembangan dalam bidang transportasi dan komunikasi serta media massa, yang mendukung tersebarnya revolusi industri, kegiatan diplomasi serta ideologi politik ke seluruh dunia.

Karena adanya teori ini, perbedaan antara domestik dan politik luar negeri menjadi kabur seperti kebijakan domestik bercampur menjadi kebijakan luar negeri. Ekonomi dan kebijakan luar negeri berubah menjadi politik.

Bagi kaum pluralist, proses modernisasi sangat dibutuhkan dan sudah mengubah masyarakat bahwa pluralis mempercayai gambaran lain mengenai dunia itu dibutuhkan jika salah satu menggenggam situasi alamiah dari permasalahan dunia di era abad 20.

C.2 Integration

Dalam dunia politik, modernisasi merupakan suatu fenomena yang menarik perhatian para pemerhati politik dunia pada masa Perang Dunia II. Salah satu ahli politik yang mengamati fenomena ini adalah “David Mitrany.”

Mitranya tertarik untuk menginvestigasi kemungkinan terjadinya integrasi internasional dari ikatan transnasional. Berkurangnya orang-orang yang fanatik terhadap bangsanya sehingga kemungkinan terbentuknya kestabilan internasional lebih besar. Mitrany menyatakan bahwa perkembangan masalah sehari-hari memerlukan kerja sama antara negara bagian. Lebih dari itu, masalah di luar politik, misalnya ekonomi atau ilmu pengetahuan, seharusnya diselesaikan oleh para pakar di bidangnya. Setelah masalah tersebut ditangani dengan baik oleh pakarnya, barulah bidang tersebut dapat dikaitkan atau dikolaborasi lebih lanjut. Inilah yang disebut proses percabangan.

Proses meningkatnya integrasi negara bagian dan masyarakat memakan biaya yang besar, inilah yang terkadang menjadi batu sandungan untuk para pemipin melanjutkan hal ini.

Mitrany tidak setuju dengan pandangan realis yang memandang interaksi internasional sebagai ‘zero sum game’; di mana salah satu pihak menang dan lainnya kalah. Tetapi ia percaya bahwa interaksi internasional dapat berubah menjadi ‘positive sum game’; yaitu semua pihak dapat diuntungkan. Mitrany melihat bahwa hal tersebut bukanlah mimpi yang jauh dari kenyataan, tetapi Mitrany menilai bahwa integrasi internasional didorong dari pengembangan bidang non-politik yang saling berkoorperasi.

Teori integrasi regional (Ernst Haas) mengatakan bahwa integrasi adalah sebuah proses , dimana para aktor politik di beberapa daerah negara bagian dapat dipengaruhi untuk memberikan kesetiaan, prediksi, dan kegiatan politik kepada sebuah pusat baru yaitu lembaga yang memiliki kekuatan untuk menjaga kepentingan nasional negara. Konsep ini dikenal dengan Neofungsionalisme. Berbeda dengan Mitrany, Haas berpendapat bahwa perlu adanya pandangan politik dalam  pemikiran pribadi mereka. Dengan kesadaran akan politik secara pribadi, maka individu akan memberikan yang terbaik sebgai aktor politik dalam organisasi internasional.

Teori ini menunjang proses bahwa individu menemukan  kesadaran pribadi mereka yang didukung dengan usaha-usaha akan menciptakan perubahan menuju kedamaian dari politik internasional.

Prediksi awal bahwa integrasi regional tidak akan dapat terwujud disebabhkan karena kepentingan dari para pemimpin yang sangat kuat. Kepentingan tersebut  menghalangi integrasi. Kendala yang lain adalah masalah internasional sangat beragam sehingga menyulitkan untuk memberikan sebuah solusi, padahal dunia internasional saling terkait.

Jadi, Haas menyimpulkan bahwa teori integrasi regional seharusnya menjadi sub bagian dari teori interdependensi secara umum.

Pada akhrinya, Teori Integrasi telah menganalisa kondisi di bawah kerjasama internasional sudah dapat dijalankan dengan baik.

Kaum realis yang menekankan kompetisi Negara dan anarki internasional mulai ditentang, sedangkan kerjasama menjadi karakter baru khusunya dalam menghadapi malasah. Militer dan kemanan tidak menjadi agenda utama politik. Ekonomi, social, dan kesejahteraan mulai menarik perhatian, dan dalam hal ini Teori Integrasi sudah menjalankannya.

C.3 Interdependence and Regime

Konsep dari interdependensi bagi kaum pluralist sama dengan apa yang disebut balance of power bagi kaum realis dan dependensi bagi kaum globalist.

Kaum pluralist berargumen bahwa memahami konsep interdependensi akan lebih akurat untuk memahami situasi politik internasional saat ini, daripada dengan menggunakan istilah balance of power.

Namun kaum realist memandang interdependensi sebagai kelemahan suatu negara atas negara lain, sehingga mereka berpendapat bahwa interdependensi harus dihindari atau diminimalisir.

Tetapi kaum pluralist menjawabnya dengan argumen bahwa interdependensi melibatkan hubungan timbal-balik di antara negara-negara atau aktor-aktor di negara yang berbeda.

Kaum pluralis tidak memandang interdependensi sebagai suatu kelemahan, malah mereka fokus kepada multiple channels yang menghubungkan masyarakat global, termasuk hubungan antar negara, transgovernmental, dan hubungan transnasional.

Walaupun isu-isu saat ini berkisar mengenai perdagangan, finansial, komunikasi yang setidaknya sebagai kesempatan untuk membangun hubungan yang baik di antara unit interdependen. Memanage hubungan interdependen mungkin akan melibatkan pembentukan aturan-aturan dan institusi yang terasosiasi atau organisasi internasional untuk mengatur isu-isu, yang biasa disebut international regime.

 

D. SYSTEM

Pluralist tidak selalu menggunakan konsep sistem dalam teorinya, walaupun konsep ini adalah konsep yang penting dalam sebuah ilmu. Secara luas kaum pluralist menggunakan istilah sistem cenderung lebih terbuka. Ini berarti bahwa sistem bersifat terbuka baik kepada pengaruh luar dan pilihan efektif dari aktor-aktor di dalam sistem itu.

Kaum pluralist menggunakan istilah sistem terbagi ke dalam 3 jenis, yaitu :

1. Kaum pluralist menganggap sistem internasional sebagai gabungan dari kebijakan luar negeri berbagai negara.

2. Beberapa pluralist lain menganggap sistem internasional sebagai gabungan kebijakan luar negeri berbagai negara ditambah aktor non-state lainnya.

3. Pluralist mengedepankan elemen-elemen mengenai definisinya tentang sistem, tetapi ditambah pula dengan beberapa catatan mengenai ide, nilai, komunikasi, perdagangan, dan arus finansial.

 

E. CHANGE

Dibandingkan dengan realist, pluralist lebih besar pemahaman terhadap kemungkinan untuk suatu perubahan, Terlebih perubahan yang damai. Ada juga kemungkinan bahwa anggota sovereign state organisasi intrnasional memilih untuk mentransfer wewenangnya kepada intstitusi tersebut. Jika ini terjadi, ini akan menjadi transformasi fundamental. Pluralist berbeda jauh dari kebanyakan realis karena gambaran mereka tentang dunia politik memungkinkana kesempatan yang besar untuk berubah.

 

F. PLURALISTS AND THEIR CRITICS: AN OVERVIEW

F.1 Anarchy

Pluralist biasanya melihat menurunnya peran anarki dan security dilemma dalam menjelsakan hubungan internasional. Ini telah diperdebatkan ooleh realist dimana tidak ada analisis tentang dunia politik yang lengkap kecuali struktur anarchial dimasukkan kedalam pemikiran selain itu realist akan melawan dimana jika satu orang mengurangi atau tidak menghiraukan pentingnya suatu pengertian, berpikikr akan cepat menjadi suatu Utopia. Ada bahaya dalam pemikiran komuninikasi yang baik akan menurunkan jumlah konflik. Berlawanan dengan itu, Realist berpendapat dimana states sering mempunyai kepentingan fundamental yang berbeda dimana konflik dan notions slipping into war dan thw war nobody wanted terlalu banyak digunakan dan salah jalan.

Respon pluralist adalah menaruh perhatian yang besar di security dillema loads the dice melawan setiap perubahan dari status quo. Pluralist melihat dunia sebagai suatu kompetisi dan pemuncul konflik kepercayaan diantara states.

F.2 Theory Building

Realis berpendapat theori harus sesimpel mungkin. Pluralist merespon sebelum theori hubungan internasional di konstruksi, kita butuh gambaran yang akurat tentang hubungan internasional. Gambaran pluralis, tidak seterarur dan tidak seefektif realist. Didalamnya mengandung angkan dan aktor yang berbeda dan pengaruh dimana membuat lebih kompleks.

F.3 Voluntarism

Pluralis bisa di kritik untuk ketergantungan mereka kepada asumsi voluntarism atau keinginan bebas yang efektif. Pluralis meninggalkan sebuah impresi dimana keharmonisan Internasional bisa diperoleh jika pemimpin menginginkannya. Pluralis jug amengklaim bahwa mereka sangat peka terhadap larangan untuk memaksa pada aksi ivdividual maupun grup.

F.4 Ethnocentrism

Kritik terakhir untuk kaum pluralis adalah terlalu banyak akademika yang melihat dunia  melalui lensa sistem politik di Amerika. Pluralis yang berpendapat bahwa birokrasi, grup kepentingan, aktor luar negeri sangat penting bagi hubungan internasional akan menolak gambaran amerika america etnosentrisme yang memaksa di dunia. Aktor yang mempeljari dengan pluralisme tidak hanya meilhat states dari barat saja melainkan melihat semua sistem politik di dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s