Working Paper Summary : Kekuatan Globalisasi dan Peran NGOs Post-Cold War


Pendahuluan

Globalisasi, merupakan sebuah kata dimana mengindikasikan semua hal menjadi global, atau peng-global-an suatu hal. Menarik, karena dengan adanya fenomena globalisasi, khususnya dengan berakhirnya Perang Dingin, studi Ilmu Hubungan Internasional mengalami sebuah kompleksitas baru, yaitu dengan berkembangnya isu-isu baru yang muncul sebagai persoalan global. Isu yang dibahas tidak hanya mengenai traditional-security-threat, tetapi juga mulai dibahasnya non-traditional-security-threat, yaitu isu-isu yang tidak hanya menyangkut isu perang dan damai, melainkan isu-isu yang sering dikatakan sebagai isu low politics seperti pembangunan, kesehatan, gender, lingkungan, HAM, dan semua hal yang menyangkut Human Security.

Faktor penting dari munculnya fenomena globalisasi itu sendiri adalah ketika batas-batas sebuah negara mulai pudar, dalam artian terjadinya sebuah isu tidak hanya terjadi di sebuah negara saja, melainkan isu yang lintas batas atau yang biasa dikenal sebagai transnational / transborders issues.

Munculnya kompleksitas isu dan sifat ‘lintas-batas’ seperti ini secara tidak langsung membuat tugas negara yang awalnya sebagai satu-satunya aktor dalam hubungan internasional, menjadi semakin berat dan bahkan seringkali isu-isu seperti ini terabaikan dari fokus perhatian negara. Begitupula kekuatan pasar, yang hanya memfokuskan dan menangani isu ekonomi serta perdagangan yang cenderung kaku. Ketidakmampuan negara dan elemen-elemen pasar dalam menangani kompleksitas isu-isu seperti ini lah yang menjadikan peran masyarakat sipil menjadi semakin signifikan. Masyarakat sipil mengisi kekosongan peran dalam menangani isu-isu yang seringkali terabaikan oleh negara dan kelompok pasar. Masyarakat sipil mulai terbentuk dan muncul, sebagai kekuatan baru dalam hubungannya dengan negara dan pasar. Dan bahkan sering disebut-sebut bahwa masyarakat sipil kini digunakan sebagai alat kontrol sebuah negara liberal.

Dengan munculnya isu lintas batas tersebut dan dengan hilangnya batas-batas kaku sebuah negara dengan adanya globalisasi, secara otomatis membuat peran dan ruang gerak kelompok masyarakat sipil semakin luas. Globalisasi membawa masyarakat sipil mampu bergerak dalam arahan tata ruang lintas batas.

 

Signifikansi Pengaruh Globalisasi dan Gerakan Sosial Masyarakat Sipil

Kelompok masyarakat sipil merupakan sebuah organisasi non-pemerintahan yang bergerak dalam menangani isu-isu tertentu. Mereka bisa bergerak baik bersama ataupun berlawanan dengan pemerintah. Definisi pasti mengenai masyarakat sipil itu sendiri dari masa ke masa terus mengalami perdebatan dan belum menemui definisi yang pasti. Kelompok masyarakat sipil diyakini mampu menjembatani, antara apa yang ingin disuarakan oleh rakyat kepada pemerintah, begitu juga sebaliknya (Nordtveit 2009, 51).

Lalu fenomena globalisasi itu sendiri merupakan fenomena yang mulai dikenal luas sejak 2 dekade lalu, ketika berakhirnya Perang Dingin yang membawa kapitalisme sebagai suatu paham yang diyakini sebagai nilai ideal. Kapitalisme itu sendiri membawa nilai-nilai liberalisme, menghapuskan batas-batas negara dan melancarkan arus transfer informasi, teknologi, pasar dan lain sebagainya. Berakhirnya Perang Dingin juga membuka pintu baru untuk munculnya isu-isu yang mulai menjadi perhatian dunia. Yang kini disebut sebagai global issues tidak hanya sebatas persoalan perang dan damai, namun juga memfokuskan pada isu-isu lainnya yang berhubungan dengan human security.[1]

Dalam melihat pengaruh fenomena globalisasi dan gerakan sosial masyarakat sipil itu sendiri, kita harus memperhatikan beberapa elemen penting di dalamnya. Ada 5 elemen dasar dalam melihat bagaimana dengan munculnya fenomena globalisasi mempengaruhi gerakan sosial masyarakat sipil.

Pertama, globalisasi membawa elemen deteritorialization.

Dimana arah gerakan sosial masyarakat sipil maupun negara tidak lagi hanya pada bergerak dengan keterbatasan lokasi maupun geografis. Jan Aart Scholte melihat kondisi ini sebagai sebuah kejadian dimana isu-isu mulai menjadi perhatian masyarakat dunia, bukan hanya menjadi pusat perhatian negara tertentu saja, isu-isu ini mulai dibahas dalam skala global, publik bisa dengan mudah mengetahui dan sadar akan isu-isu global melalui kemajuan teknologi komunikasi yang telah ada (Scholte 1996, 45). Globalisasi merujuk pada meningkatnya kemungkinan masyarakat untuk bertindak lintas batas dan globalisasi membawa public awareness kepada masyarakat dunia dalam melihat sebuah isu dan kejadian.

Kedua, globalisasi membawa elemen interconnectedness.

Melihat pada gerakan sosial masyarakat sipil yang saling berhubungan satu sama lain, sifatnya lintas batas geografis dan batas negara. Isu dan permasalahan yang ada saling bergantung satu sama lain, baik dalam skala lokal-nasional-regional-global (Tomlinson 1999, 9). Globalisasi membuat hilangnya batas-batas negara, dalam artian masyarakat satu negara dapat secara langsung berinteraksi dengan masyarakat negara lain, begitupula dengan isu yang terjadi, globalisasi membangun sebuah jaringan dimana isu yang satu terkait dengan isu lainnya.

Ketiga, globalisasi membawa social acceleration gerakan sosial masyarakat sipil.

Arus pertukaran teknologi komunikasi, transportasi dan informasi yang sangat cepat, maka gerakan sosial masyarakat sipil menjadi semakin mudah. Masyarakat mampu berinteraksi satu sama lain dengan masyarakat di tempat lain. Pembahasan dan penanganan isu yang ada pun akan semakin mudah jika ditangani bersama. Elemen deteritorialization dan interceonnectedness secara tidak langsung akan membentuk percepatan gerak sosial masyarakat sipil. Dengan cepatnya gerakan sosial tersebut, maka hal ini akan membawa dampak dan hasil yang cepat pula dalam penanganan isu (Eriksen 2001; Scheuerman 2004).

Keempat, globalisasi membawa elemen collectivity and complexity.

Keterbukaan dan kebebasan arus teknologi informasi dan komunikasi, seperti teknologi komputer dan internet, yang disertai dengan 3 elemen sebelumnya deterritorialization, interconnectedness, dan social acceleration membawa gerakan sosial masyarakat sipil kepada kolektifitas dan kompleksitas isu. Kondisi isu-isu yang saling terkait satu sama lain membuat penanganannya menjadi semakin kompleks. Isu yang saling terkait membentuk isu baru yang sifatnya kolektif (Harvey 1989).

Kelima, globalisasi sebagai sebuah multi-pronged process.

Globalisasi harus dipahami sebagai proses multi-cabang sejak elemen deterritorialization, interconnectedness, dan social acceleration masuk ke dalam (budaya, ekonomi dan politik) arena kegiatan sosial. Dalam kehidupan politik, globalisasi mengambil bentuk yang berbeda, meskipun kecenderungan umum terhadap deterritorialization, keterkaitan lintas batas, dan percepatan kegiatan sosial yang mendasar di sini juga. Gerakan transnasional, di mana aktivis menggunakan teknologi komunikasi yang cepat untuk bergabung dengan gerakan aktivis lainnya melintasi batas-batas administratif sebuah negara dan menawarkan solusi yang bersifat global (Held, McGrew, Goldblatt & Perraton 1999).

 

Kesimpulan

Fenomena globalisasi yang mulai marak dibahas sejak berakhirnya Perang Dingin membawa gerakan sosial masyarakat sipil kepada arah gerakan yang baru. Dilihat dari sisi ruang gerak, yang semula hanya bergerak pada batas-batas administratif sebuah negara dan kini kita dapat melihatnya bergerak lintas batas. Lalu dengan adanya keterkaitan yang membawa kompleksitas isu-isu baru yang mulai jadi perhatian masyarakat dunia. Isu yang dibahas bukan hanya isu yang menjadi permasalahan suatu negara, melainkan isu yang saling terhubung dengan isu lainnya sehingga menjadi isu global. Proses panjang dari globalisasi pun membawa pada panjangnya proses gerakan masyarakat sipil dunia yang diiringi oleh social acceleration dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi saat ini. Perubahan paradigma juga mempengaruhi gerakan sosial masyarakat sipil, ketika paham liberalisme muncul sebagai ‘juara’ membuat posisi negara sebagai satu-satunya aktor terdegradasi, kini masyarakat sipil bisa berdiri sebagai pihak yang mengawasi kinerja pemerintahan sebuah negara. Secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa dengan munculnya fenomena globalisasi, maka gerakan sosial masyarakat sipil menjadi semakin luas, isu yang dibahas semakin kompleks dan kolektif, serta secara organisasi pun mereka mampu berdiri sebagai organisasi masyarakat sipil dunia yang lintas batas.

 

Bibliografi

Eleonore Tomlinson, John, 1999, Globalization and Culture, Cambridge: Polity Press.

Eriksen, Thomas Hylland, 2001, Tyranny of the Moment: Fast and Slow Time in the Information Age, London: Pluto Press.

Harvey, David, 1989, The Condition of Postmodernity, Oxford: Blackwell

Held, David, McGrew, Anthony, Goldblatt, David, and Perraton, Jonathan, 1999, Global Transformations: Politics, Economics and Culture, Stanford: Stanford University Press.

Kofman and Gillians Young (eds.), 1996, Globalization: Theory and Practice, London: Pinter.

Nordtveit, Bjorn Harald, 2009, Constructing Development: Civil Society and Literacy in a Time of Globalization, Springer, New York.

Scheuerman, William E., 2004, Liberal Democracy and the Social Acceleration of Time, Baltimore: Johns Hopkins Press.

Scholte, Jan Aart, 1996, Beyond the Buzzword: Towards a Critical Theory of Globalization.


[1] United Nations Development Program (UNDP) mendefinisikan Human Security ke dalam 7 term, yaitu Economic Security, Food Security, Health Security, Environmental Security, Personal Security, Community Security dan Political Security. Dengan adanya acuan seperti ini, gerakan sosial kelompok masyarakat sipil memiliki landasan baru dalam bergerak, membahas dan menangani isu-isu baru yang semakin kompleks, yang muncul pasca berakhirnya Perang Dingin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s