Working Paper : Analisa Isu-Isu Potensial Dalam Konflik Korea


Permasalahan yang muncul di semenanjung Korea adalah permasalahan yang mendesak untuk diselesaikan, karena baik secara langsung maupun tidak langsung permasalahan tersebut akan memberikan pengaruh pada hubungan internasional di kawasan Asia terutama di kawasan Asia Timur. Konflik yang terjadi di Semenanjung Korea ini adalah bukti nyata akan adanya perang dingin di kawasan Asia. Dalam perkembangannya, permasalahan yang muncul di Semenanjung Korea akan menyebabkan munculnya berbagai isu- isu baru dan antara isu yang satu dengan yang lainnya akan saling berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis akan memulai membahas satu persatu mengenai isu- isu yang akan muncul.

1.      Nuclear Future.

Pengembangan nuklir adalah salah satu hasil dari konflik yang tidak kunjung selesai di Semenanjung Korea. Pada 9 Oktober 2006, Korea Utara melakukan percobaan bom nuklir untuk pertama kalinya, hal itulah yang nantinya akan menyebabkan masyarakat dunia kembali memberi perhatian pada negara ini.[1] Pengembangan Nuklir di Korea Utara ini memberikan banyak dampak terhadap hubungan negara ini dengan pihak luar. Dengan Amerika Serikat misalnya, Korea Utara melakukan persetujuan dengan mengijinkan pihak Amerika untuk melakukan inspeksi di YongByon dengan syarat diberikannya bantuan minyak. Nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara memiliki kapasitas untuk menghancurkan seluruh kota di Korea Selatan dan Jepang. Hal itu lah yang membuat para pemimpin militer untuk memikirkan ulang mengenai strategi yang akan digunakan untuk mengahadapi perang di Semenanjung Korea dan akan memberikan tempat yang lebih besar bagi negara- negara lain, seperti Jepang untuk ikut campur dalam perang saudara ini.[2]

2.      Balance of Power.

Balance of power adalah salah satu teori yang dikemukakan oleh paradigma realis, dimana teori tersebut mengemukakan bahwa adanya tindakan oleh satu negara untuk mengimbangi tindakan yang dilakukan oleh negara lain untuk melindungi negaranya dari negara lain tersebut dengan menyeimbangkan kekuatannya dengan negara tersebut, misalnya dengan meningkatkan persenjataan.[3] Di Semenanjung Korea ada 6 negara yang merasa memiliki kepentingan, Amerika Serikat, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, China dan Rusia, masing- masing negara tersebut berusaha mencegah negara yang lain untuk mendapatkan keuntungan. Amerika Serikat di sini sangat memegang peranan penting dimana negara inilah yang nantinya akan mengatur keseimbangan power di kawasan ini. China dan Korea seringkali merasa khawatir Amerika Serikat nantinya akan mengambil kesempatan untuk menjadi sebuah kekuatan hegemony dalam kawasan Asia, serta mengijinkan Jepang untuk memainkan peranan di Asia.[4]

Pada Juni 2007, Korea Utara melakukan uji coba misil yang berjangkauan 100 km melewati Korea Selatan dan Jepang.[5] Hal tersebut akan membawa dampak yang tidak terduga pada perkembangan power di Semenanjung Korea. Jepang, seperti yang kita ketahui tidak memiliki angkatan perang. Oleh karena itu pengembangan nuklir oleh Korea Selatan dapat menjadi salah satu alasan oleh Jepang untuk membentuk suatu angkatan perang. Dan karena itu semakin jelas alasan mengapa China merasa terancam dengan adanya pengembangan nuklir di Korea Utara, karena hal itu akan mendukung berkembangnya Jepang dengan angkatan perangnya, sehingga dikhawatirkan Jepang dapat menjadi sebuah kekuatan baru yang akan menyeimbangi kekuatan China di kawasan Semenanjung Korea ini.[6]

Jepang dalam berbagai kesempatan mengemukakan bahwa apabila terjadi unifikasi antar dua Korea dan instalasi nuklir ada di negara gabungan tersebut, maka Jepang akan mulai melakukan pengembangan nuklir, yang dalam waktu singkat akan dapat diproduksi melihat kemajuan teknologi Jepang.[7] Dengan adanya “Japan go nuclear” akan ada perkembangan yang lebih lanjut, dimana akan ada perlombaan senjata dengan China, Taiwan dan Korea Selatan, sedangkan Pakistan dan India akan berusaha untuk memperbaharui teknologi nuklir mereka.[8]

3.      Foreign Aid.

Bantuan luar negeri masih berkaitan erat dengan nuklir di Korea Utara. Korea Utara seperti kita semua tahu, memiliki perekonomian yang sangat buruk dan semakin bertambah buruk dengan pengalokasian dana untuk pengembangan fasilitas nuklir. Dengan buruknya perekonomian tersebut Korea Utara memiliki ketergantungan yang besar pada negara- negara lain. Namun, ketergantungan itu seringkali digunakan sebagai kesempatan, misalnya saja Amerika Serikat yang menggunakan tekanan ekonomi untuk mengawasi perkembangan nuklir di Korea Utara. Bantuan tersebut disalurkan antara lain melalui The Federal Reserve Bank di New York, Central Bank of Rusia, dan The Far East Commercial Bank.[9] Sebagai salah satu negara yang pernah menjajah Korea, Jepang seringkali tetap memberi bantuan walaupun Korea Utara terbukti melanggar perjanjian dengan meneruskan pengembangan nuklir mereka. Jepang beranggapan bahwa dengan memberikan bantuan pada Korea Utara dapat meningkatkan pengaruhnya atas negara dan memperbaiki hubungan buruk sebagai warisan masa perang.[10] Namun, ketergantungan Korea Utara terhadap bantuan dari negara lain dapat menjadi salah satu alat untuk membuat Korea Utara sedikit lunak dan mengijinkan International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk melakukan inspeksi atas fasilitas yang dimilikinya.

4.      Economy.

Perekomian di Semenanjung Korea akan sangat berhubungan dengan Korea Utara dimana adalah negara yang paling miskin dengan perekonomian yang buruk hasil dari Perang Korea. Perekonomian inilah yang nantinya akan menjadi salah satu isu yang menjadi penentu dari keadaan di Semenanjung Korea. Korea Utara dan Korea Selatan seringkali berkonflik baik secara politik maupun militer, namun Korea Selatan masih merasa bertanggung jawab atas perekonomian Korea Utara. Pada tahun 2000, misalnya pada masa pemerintahan Presiden Kim, Korea Selatan membantu pereknomian Korea Utara dengan mengirimkan 200.000 ton pupuk yang bernilai sekitar 60 juta dolar.[11] Pada tahun tersebut kerjasama ekonomi lebih diutamakan oleh Korea Selatan, sedangkan Korea Utara lebih banyak mengalokasikan dananya untuk mengembangkan senjata nuklir. Hal tersebut yang menyebabkan Korea Utara tetap tidak mampu untuk bangkit meskipun telah mendapatkan dari berbagai pihak.

Uji coba nuklir yang dilakukan oleh pihak Korea Utara mungkin tidak memberikan dampak langsung pada perekonomian, seperti penurunan drastis pada saham, namun dapat meningkatkan harga emas dan minyak dengan banyaknya investor yang mengalihkan investasinya ke emas dan minyak, bahkan dapat menganggu laju perekonomian regional dan apabila tidak diatasi akan berdampak pada perkonomian Asia. Didukung dengan sedikitnya pengaruh dan hubungan Korea Utara dengan dunia luar yang sangat kecil, maka pengaruh nuklir Korea terhadap dunia internasional akan lebih cepat untuk berakhir.[12] Dengan adanya uji coba nuklir ini, Korea Utara seringkali dirugikan, dimana perekonomiannya semakin buruk dan mendapat embargo ekonomi dari berbagai pihak. PBB dengan Dewan Keamananannya baru- baru ini mengemukakan resolusi yang isinya mengutuk percobaan nuklir Korea Utara dan melarang eksport senjata dari Korea Utara dan mempererat embargo finansial. Lain lagi dengan Jepang, negara ini mengumumkan larangan perdagangan dengan Korea Utara. Dengan adanya embargo ini sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian wilayah Asia, namun karena sedikitnya keterlibatan Korea Utara pada pasar global maka akan sedikit pula pengaruh yang akan dirasakan.[13]

5. Peace and Security.

Perang Korea terjadi sejak tahun 1950-1953, namun hingga saat ini tidak ada penyelesaian yang menunjukkan secara jelas mengenai bagaimana kelangsungan hubungan antara dua wilayah tersebut. Sejak tahun 1950, krisis yang terjadi di Semenanjung Korea mengalami pasang surut, seringkali memanas. Pada saat Korea Selatan diperintah oleh Kim Dae Jung dibuat salah satu perjanjian perdamaian yang bertujuan untuk menyatukan kembali Korea Utara dan Korea Selatan, yaitu Sunshine Policy.[14] Namun, tidak ada pembicaraan lebih lanjut mengenai penyatuan kedua wilayah tersebut sehingga dapat menjadi satu kesatuan. Korea Utara memegang peranan penting dimana seringkali menyebabkan krisis di Semenanjung Korea akibat pengembangan nuklirnya. Korea Utara seringkali meningkatkan ketengangan di Semenanjung Korea dengan tidak mengindahkan ancaman dari pihak internasional untuk tidak menggembangkan nuklirnya sebagai senjata dan keluar dari Non- Proliferation Treaty (NPT). Hal tersebut menimbulkan reaksi dari pihak Jepang yang dalam hal ini akan terancam stabilitas keamanannya, dengan memberi pernyataan akan menembak apapun objek tidak dikenal yang ada di wilayahnya. Selain itu Amerika Serikat dan Korea Selatan juga bereaksi dengan mengadakan latihan militer bersama.[15]

Kemajuan yang terjadi dalam hubungan antar “major power” dapat kembali lagi dimulai dari nol akibat situasi yang terjadi di Semenanjung Korea, terutama akibat nuklir Korea Utara. Apabila terjadi Perang di Semenanjung Korea selain dapat menghancurkan negara- negara yang terlibat juga menganggu kestabilan politik internasional.[16] Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea. Pertama, meningkatkan dialog dalam kawasan, sehingga salah pengertian di antara pihak- pihak yang terlibat dapat terselesaikan. Yang kedua, walaupun banyak pihak- pihak di luar Korea yang terlibat namun, pihak- pihak tersebut tidak hanya mengutamakan kepentingannya semata tapi juga bekerja sama untuk mencapai satu tujuan utama yaitu stabilitas di wilayah Semenanjung Korea dan kemenangan bagi semua pihak.[17]

*analisa ini adalah salah satu tugas yang disusun bersama rekan lainnya dalam perkuliahan Hubungan Internasional di Asia Pasifik bersama Prof. Colin Brown.

[1] http://www.peaceforum.org.tw/filectrl/2006peaceforum_pb13.pdf diakses pada 20 September 2009 pada pukul 10:56

[2] http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/asia/article6155956.ece diakses pada 20 September 2009 pada pukul 11:03

[3] http://www.britannica.com/EBchecked/topic/473296/balance-of-power diakses pada 20 September 2009 pada pukul 10:58

[5] http://public.shns.com/node/37224 diakses pada 20 September 2009 pada pukul 11:18

[6] http://www.peaceforum.org.tw/filectrl/2006peaceforum_pb13.pdf diakses pada 20 September 2009 pada pukul 11:33

[7] http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2009/03/113_41431.html diakses pada 20 September 2009 pada pukul 11:46

[8] http://www.fas.org/sgp/crs/nuke/RL34487.pdf diakses pada 20 September 2009 pada pukul 11:52

[11] http://www.iie.com/publications/papers/paper.cfm?ResearchID=387 diakses pada 21 September 2009 pada pukul 12:15

[15] Ibid

[16] http://public.shns.com/node/37224 diakses pada 20 September 2009 pada pukul 11:18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s