Working Paper : JFK and The Cuban Missile Crisis


“There can be no progress if people have no faith in tomorrow.” John Fitzgerald Kennedy (1917 – 1963) U.S. president. Speech to the Inter-American Press Association, Miami Beach

Hari ini, kita memperingati 50 tahun inagurasi Presiden John F.Kennedy. Satu hal yang selalu diingat publik dari peristiwa ini adalah sepenggal kalimatnya, “Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country…”

John Fitzgerald Kennedy, merupakan salah satu decision-maker terbaik sepanjang masa, hal ini merujuk pada keputusannya dalam Cuban Missile Crisis 1962. Keputusan ini merupakan salah satu proses pengambilan keputusan terbaik dalam situasi genting, bukan hanya dilihat dari output keputusan yang membawa kita terhindar dari perang nuklir pada era Perang Dingin, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan yang sangat sulit di bawah tekanan yang besar. Tekanan datang dari berbagai pihak, Menteri Pertahanan Mc.Namara, Direktur CIA John A.McCone, Menteri Luar Negeri Dean Rusk, Joint Chief of Staff, dan juga penasihat-penasihat keamanan dan luar negeri lainnya.

Post kali ini akan membahas konflik Cuban Missile Crisis 1962 beserta implikasinya.

 

The Cuban Missile Crisis

Tahun 1961, Pemerintahan Amerika Serikat melakukan invasi Teluk Babi untuk menjatuhkan pemerintahan Fidel Castro, yang memimpin Negara Kuba pada saat itu. Sebenarnya hubungan diplomatik Amerika dan Kuba berjalan baik. Kuba yang dulunya sempat berada di bawah penjajahan Spanyol berhasil mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1902 dengan bantuan Amerika Serikat. Amerika Serikat memberikan pengaruh besar dalam urusan-urusan Kuba dan mengharuskan Kuba meyewakan Teluk Guanatamo. Dengan menggunakan pasal-pasal dalam Amandemen Platt, tentara AS menduduki Kuba untuk kedua kalinya pada 1906-1909. Amandemen Platt dicabut pada 1934, namun penyewaan Teluk Guantanamo diperpanjang dengan bayaran nominal yang cukup besar pertahunnya. Sejak Fidel Castro menjadi pemimpin Kuba pada tahun 1960-an, mulailah gerakan revolusi Kuba. Fidel Castro tidak ingin Guantanamo dijadikan pangkalan militer oleh AS. Fidel Castro mengusung Gerakan 26 Juli dimana Che Guevara dan kaum barbudos berhasil memaksa Jenderal Fulgencio Batista, sebuah rezim diktator militer sayap kanan yang didukung Amerika Serikat, melarikan diri pada tanggal 1 Januari 1959. Kebijakan ekonomi-sosialis yang diusung Fidel Castro menegangkan hubungan AS-Kuba. Kebijakan ekonomi-sosialis Fidel Castro dimulai dengan menuntut Amerika untuk mengembalikan wilayah Teluk Guantanamo dan menolak uang sewa sebesar 4.000 dollar per tahun dari AS. Fidel Castro selanjutnya melakukan nasionalisasi aset-aset Washington di wilayahnya. Lebih dari 100 perusahaan berbendera AS disita Kuba. Seperti Arbenz, Castro juga melakukan reformasi agraria pada tahun 1960 dengan mencanangkan Tahun Pembaharuan Agraria yang mengancam keberadaan United Fruit Company di Kuba.

Hasil pangan utama Kuba adalah gula, untuk pasar Amerika dan dalam jumlah yang lebih sedikit, Inggris. Kebanyakan gula Kuba diekspor ke AS karena Kuba mendapatkan kuota yang besar, yang dibayar di atas harga dunia, sebagian untuk menolong industri dalam negeri AS Pemerintahan revolusioner yang baru melakukan “reformasi tanah” yang berhasil dan akhirnya menyita hampir semua harta pribadi. Mulanya, Castro tidak  mendiskusikan rencana-rencananya untuk masa depan, namun akhirnya ia menyatakan dirinya seorang komunis, dan menjelaskan bahwa ia berusaha membangun sosialisme di Kuba. Dan memusatkan perhatian pada pemeliharaan kesehatan dan pendidikan gratis untuk semua orang, dan memulai hubungan politik dan ekonomi yang erat dengan Uni Soviet. Pendidikan di Kuba menjadi semakin diperhatikan, didukung dengan program mengajar yang dilakukan oleh para murid berpendidikan kepada yang belum bisa membaca, sehingga mengurangi jumlah populasi buta huruf di negara Kuba. Guantanamo yang tadinya barak militer AS, dirubah menjadi tempat dibangun sekolah.

Melihat perlakuan Fidel Castro yang begitu menentang AS, AS kemudian  secara progresif telah memberlakukan undang-undang yang dimaksudkan untuk mengisolasi Kuba secara ekonomi lewat embargo dan langkah-langkah lainnya, seperti menghukum warga Amerika yang berlibur di Kuba. Namun ada juga beberapa warga Kuba yang merasa tidak nyaman dan memiliki pandangan yang berbeda dengan kepemimpinan dan pemerintahan sosialis yang dibangun oleh  Fidel Castro, sehingga kebanyakan dari mereka pindah ke negara terdekat yaitu Amerika Serikat. Para imigran mendapat bantuan dari pemerintah Amerika. Kebanyakan dari imigran ini ialah yang dulunya para petinggi di Kuba, profesor, dan inteligen di Kuba. AS melihat sesuatu yang bisa dimanfaatkan dari hal ini, kemudian pada saat itu, Presiden John F. Kennedy ingin melakukan serangan terhadap pemerintah Kuba dengan pasukan imigran asal Kuba sendiri. Penasihat Presiden pada saat itu tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Presiden Kennedy, karena hal ini termasuk melanggar hukum internasional. Namun, saat itu Presiden dengan membawa nama negara tidak ingin negaranya dikalahkan oleh pihak lain. Invasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat langsung bisa diatasi oleh Fidel Castro hanya dalam waktu kurun 72 jam. Fidel Castro bukanlah orang amatir dalam keamanan negaranya. Dia memiliki banyak sumber dan sistem keamanan yang tinggi.

Sebelumnya pada bulan Januari 1961, Presiden Eisenhower bertemu dengan Presiden terpilih Kennedy dan menyatakan dukungannya pada operasi rahasia terhadap Kuba dan menyatakan bahwa dukungan terhadap operasi rahasia ini melibatkan AS secara publik. Eisenhower mendesak Kennedy untuk menyelesaikan rencana yang dibuat pada masa kepemimpinannya dengan tidak membiarkan pemerintahan Fidel Castro yang ada di Kuba untuk terus berlanjut. Selanjutnya Kennedy melakukan beberapa rapat dengan stafnya membahas rencana invasi. Setelah rapat justru muncul perbedaan, untuk terus melanjutkan rencana invasi atau batal. Direktur CIA, Kepala Staf Gabungan dan Menteri Pertahanan menyatakan dukungan terhadap rencana invasi dengan memberikan prediksi tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Hal ini mereka sampaikan tegas dalam forum rapat. Sebaliknya Menteri Luar Negeri beserta asistennya justru memiliki pandangan lain karena bagi mereka jika invasi dilakukan, konsekuensi politik akan memburuk baik di AS maupun Amerika Latin. Sayangnya hal ini hanya mereka kemukakan dalam memo tertulis kepada Presiden Kennedy.

Sesaat setelah gagalnya invasi teluk babi, Fidel mendeklarasikan Kuba sebagai negara republik sosialis. Perdana Menteri Uni Soviet menyatakan kepada JFK bahwa setiap serangan berikutnya terhadap Kuba akan dinilai sebagai tindakan perang, tidak lama kemudian Uni Soviet menempatkan misil-misil nuklir di Kuba pada tahun 1962 Sebagai reaksi , Amerika melakukan blokade di perairan internasional. Pada tanggal 22 Oktober, Kennedy muncul di depan publik dan menuntut Uni Soviet untuk menarik rudal-rudalnya atau AS akan menyerang Kuba. Para pengamat politik dan strategi pertahanan berprediksi ini adalah saat terdekat dunia dengan bencana nuklir akhir nya Uni Soviet mundur, dan setuju untuk menyingkirkan misil-misilnya dengan imbalan janji Amerika untuk menyingkirkan misil-misil nuklir serupa di Turki dan untuk tidak pernah menyerang Kuba lagi.

Setelah disetujuinya kesepakatan tersebut, Amerika tidak pernah lagi mengancam Kuba secara terbuka, namun dapat dibilang bahwa Amerika terlibat dalam kegiatan-kegiatan rahasia yang sangat terinci dan absurd untuk membunuh
Castro, yaitu Proyek Kuba Castro dan Anerika berduel dalam aksi-aksi Perang Dingin. Dalam serangan teroris yang terkenal pada 1976 terhadap Penerbangan Cubana 455di mana 73 orang meninggal konon direncanakan oleh lawan-lawan Castro yang didanai CIA dan beroperasi dari Venezuela. Amerika juga mendukung kelompok-kelompok teroris anti-Castro di Miami dalam serangan-serangan mereka terhadap Kuba.

Pada April tahun 1980 lebih dari 10.000 orang Kuba mendatangi kedutaan besar Peru di Havana untuk memperoleh perlindungan politik. Sebagai jawaban atas aksi tersebut, Presiden Fidel Castro mengizinkan siapapun yang ingin
meninggalkan Kuba untuk pergi melalui pelabuhan Mariel. Dalam aksi penyelamatan dan perlindungan politik dengan kapal mariel, lebih dari 125.000 orang Kuba bermigrasi ke Amerika.

Akhirnya pemerintah Amerika menghentikan arus kapal-kapal itu dan Kuba menghentikan eksodus yang tidak terkendali dari Kuba. Keruntuhan Uni Soviet pada 1991 merupakan pukulan ekonomi yang dahsyat bagi Kuba. Ini menyebabkan eksodus pencari perlindungan lainnya yang juga tidak terkendali ke Amerika pada tahun 1994 yang berhasil ditekan hingga hanya beberapa ribu setahun di bawah perjanjian Amerika-Kuba. Kini arus ini tampaknya meningkat lagi, meskipun jauh lebih lambat daripada sebelumnya.

Tinjauan Teoritis

Deterrence.

Salah satu karakteristik Perang Dingin diantaranya adalah dengan adanya perlombaan senjata / arms race antara dua super powers yang mewarnai situasi hubungan internasional saat itu. Salah satu teori yang dominan dalam era Perang Dingin adalah teori deterrence.

Daya hancur senjata nuklir yang sangat hebat mengakibatkan risiko yang sangat besar jika digunakan, kecuali untuk menghadapi provokasi yang ekstrim. Karena sedikit sekali sasaran politik yang harus diperoleh melalui perang nuklir, maka fungsi utama senjata tersebut digunakan untuk melakukan ancaman terhadap negara lawan. Deterrence, dalam arti bahwa para perumus kebijakan berusaha mencegah tindakan tertentu dari negara lawan dengan melakukan ancaman pembalasan militer, merupakan salah satu sarana untuk mempengaruhi sikap, kebijakan, dan tindakan negara lain yang patut dipertimbangkan.[1]

Premis yang mendasari strategi deterrence ialah sebagai berikut :

1. Keputusan yang diambil oleh negara penantang (challenger) dan negara bertahan (defender) akan dilakukan berdasarkan perhitungan rasional mengenai kemungkinan risiko serta hasil yang akan diperoleh, evaluasi situasi yang akurat, dan perkiraan yang cermat terhadap kapabilitas relatif.

2. Tingkat ancaman tertinggi, dengan pemakaian senjata nuklir, bisa diartikan sebagai usaha mencegah kekerasan dari pada menumbuhkan sikap agresif.

3. Nilai hirarkis negara penantang (challenger) dan negara bertahan (defender) sebanding, minimal mereka memiliki persamaan untuk menghindari terjadinya kekerasan dalam skala besar.

4. Kedua belah pihak menjaga pengawasan yang ketat terhadap keputusan yang dapat menimbulkan atau mengakibatkan penggunaan senjata strategis.

Dengan demikian, deterrence merupakan proses pembuatan keputusan yang rasional dan bisa diperkirakan. Kebanyakan teoritis deterrence memperkirakan bahwa negara-bangsa merupakan aktor tunggal dalam interaksi internasional.[2]

Secara matematis, teori deterrence dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pengaruh deterrence = Perkiraan kapabilitas x Perkiraan Tindakan

Meskipun formulaini terlalu menyederhanakan hubungan yang rumit, tetapi rumus tersebut memberi kunci pokok yaitu jika perkiraan terhadap kapabilitas atau tindakan pemakaian kapabilitas sama dengan nol, maka pengaruh deterrence juga akan nol.[3]

Secara garis besar, teori deterrence dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :

1. Compellence (1945-1962) : menggunakan instrumen militer dan nuklir sebagai alat coercive bargaining, bertujuan sebagai instrumen politik guna merubah perilaku pihak lain.

2. Mutual Deterrence (1962-1983) : menyadari bahwa compellence bisa menyebabkan terjadinya provokasi pertukaran energi nuklir, maka tujuan senjata nuklir berubah menjadi instrumen untuk menggentarkan pihak lain guna mencegah terjadinya serangan.

3. Extended Deterrence : pemberdayaan dilakukan bukan hanya terhadap negara sendiri, tetapi juga terhadap negara aliansi, berguna untuk mencegah terjadinya serangan terhadap negara aliansi.[4]

– Game Theory and Security Dilemma.

Teori ini lebih mengarah kepada apa yang harus dilakukan dalam sebuah proses pengambilan keputusan seorang decision-maker dalam menghadapi sebuah konflik atau krisis kepentingan.

Teori ini merupakan aplikasi ilmu matematika yang diterapkan dalam ilmu sosial.Teori ini membahas mengenai optimalisasi pengambilan pilihan-pilihan potensial dan memperkirakan apa yang akan dilakukan pihak lawan jika kita mengambil pilihan langkah dan kebijakan tertentu.[6]

Tidak berbeda halnya dengan security dilemma, yaitu teori dimana seorang decision-maker menghadapi situasi dilema dalam proses pengambilan keputusan. Ia harus dengan matang memikirkan dampak apa yang akan terjadi jika ia mengambil kebijakan tertentu terlebih dalam situasi krisis. Kematangan seorang pemimpin dibutuhkan dalam situasi ini karena situasi ini merupakan situasi dimana dampak yang akan terjadi dari sebuah kebijakan yang diambil, merupakan dampak yang cenderung berbahaya baik bagi negaranya maupun dunia internasional. Tujuan utama dalam pengambilan keputusan ini adalah self-defense and just to play it safe.[7]

Dampak Peristiwa Teluk Babi dan Krisis Misil Kuba Terhadap Dunia Internasional

A.    TERHADAP HUBUNGAN ANTARA US DAN SOVIET

US – SOVIET (  pre – 1962 )

  • Pada tahun 1946, Eropa jelas menentang dibagi menjadi blok-Barat yang dipimpin oleh Amerika, dan Timur dipimpin oleh Uni Soviet.
  • Hubungan permusuhan antara Amerika dan Uni Soviet membentuk substansi Perang Dingin. Perang itu, pada dasarnya tidak melibatkan konflik militer langsung, namun pada sesuatu yang mungkin rasa takut terhadap teknologi baru, perang nuklir.
  • Amerika bertekad untuk mencegah penyebaran Komunisme, awalnya memberikan dukungan ekonomi yang besar kepada negara-negara sekitar Rusia, khususnya Jerman dan Turki.
  • Cetak biru untuk memerangi perang dingin datang dengan Dewan Keamanan Nasional memo # 68. NSC-68 seperti yang dikenal adalah dilihat sebagai dokumen terpenting dokumen perang dingin. Itu adalah rencana untuk mengubah Amerika Serikat menjadi negara garnisun, dengan meningkatkan pengeluaran militer sebesar 400%. Hal ini memberikan andil besar kepada “perlombaan senjata”. Baik Amerika Serikat dan Uni Soviet bertekad untuk berada dalam kepemilikan senjata yang paling kuat dan teknologi maju.
  • 1961 melihat perkelahian nyata pertama dengan Kuba sebelum Krisis Rudal Kuba., Penasehat militer mendukung program yang disetujui oleh Eisenhower, untuk melatih orang-orang buangan Kuba untuk invasi Kuba, dan CIA meyakinkannya bahwa serangan akan berhasil. Pada tanggal 17 April 1961, 1600 gerilyawan mendarat di Teluk Babi di Pantai Selatan Kuba. Serangan ini dimaksudkan untuk membangkitkan pemberontakan di antara rakyat Kuba terhadap Castro. Ini tidak boleh terjadi, dalam waktu 48 jam setelah pendaratan, kelompok ditangkap oleh tentara Kuba.
  • Tidak ada keraguan bahwa Castro waspada terhadap invasi yang didukung AS dan yang lainnya ,tidak  mengherankan bila  kemudian bahwa Uni Soviet itu berpaling untuk meminta bantuan dalam meningkatkan kemampuan Kuba untuk membela diri dari serangan lain?

US-SOVIET PASCA CUBAN MISSILE CRISIS

  • Hanya lebih dari sebulan setelah krisis dimulai, pada 21 November, Presiden Kennedy mengakhiri karantina sejak Khrushchev akhirnya menarik bom nuklir Soviet dari Kuba. Pada peringatan krisis yang ke – 30, terungkap bahwa terdapat  lebih dari 40 000 Tentara Soviet berada di Kuba, siap dikerahkan dalam kejadian invasi Amerika
  • Pada akhir tahun 1960-an Uni Soviet telah mencapai paritas strategis dengan Amerika. Dalam  kemampuan militer, Amerika Serikat tidak bisa lagi dianggap unggulan. Jadi dalam hal pengawasan senjata, Uni Soviet sekarang bisa bernegosiasi dari posisi kesetaraan.
  • Setelah Krisis Rudal Kuba, terutama setelah Khrushchev dibebaskan dari posisinya sebagai pemimpin, ada upaya pada kedua bagian untuk urusan pengawasan senjata, mengakibatkan banyak penandatanganan perjanjian bilateral. Krisis Rudal Kuba menyoroti pentingnya yang jelas dan sistem komunikasi langsung antara Moskow dan Washington. Selama krisis, kedua pemimpin berkomunikasi dengan satu sama lain melalui surat tertulis, yang terbukti menjadi bentuk kelambatan dalam  komunikasi. Jadi, pada tahun 1963, kesepakatan dicapai, awalnya kesepakatan dimulai menggunakan teletype, telegraf dan radio-link komunikasi telegraf. Tentu saja dengan perkembangan teknologi baru, link komunikasi ini telah diupgrade.

B.     DAMPAK PADA KUBA

  • Kuba menjadi tempat berkobarnya agitasi komunis di Amerika Selatan. Di dalam negeri dilancarkan tindakan-tindakan radikal; 1965; Partai Unido diganti dengan Partai Komunis. Meskipun dibantu Uni Soviet, akan tetapi kesulitan-kesulitan ekonomi pada awal 1970-an mengakibatkan tindakan otoriter terpaksa diambil guna meningkatkan produktivitas, terutama dalam produksi gula. Lambat laun situasi berangsur-angsur membaik, dan pada 1973 diadakan persetujuan dengan Amerika Serikat mengenai hukuman atas pembajakan udara. Beberapa negara Amerika Latin pun kemudian kembali menjalin relasi dengan Kuba dalam bidang ekonomi dan politik.
  • Pasca krisis rudal kuba , terutama setelah  keruntuhan Uni Soviet pada 1991 merupakan pukulan ekonomi yang dahsyat bagi Kuba. Ini menyebabkan exodus pencari perlindungan lainnya yang juga tidak terkendali ke Amerika Serikat pada 1994, yang berhasil ditekan hingga hanya beberapa ribu setahun di bawah perjanjian Amerika Serikat-Kuba. Kini arus ini tampaknya meningkat lagi, meskipun jauh lebih rendah daripada sebelumnya

C.     DAMPAK UMUM

  • Pada tahun 1963, Kruschev dan Kennedy menyetujui Traktat Pelarangan Uji Nuklir. Kasus Kuba merupakan  awal dari akhir terjadinya Perang Dingin.
  • Khrushchev kehilangan prestise – karena dia telah gagal. Terutama, setelah Cina pecah dari Rusia.

Pada 40 tahun belakangan ini konferensi tentang Krisis Rudal Kuba itu, mencatat bahwa “pelajaran dari krisis rudal mungkin membantu orang-orang yang tertarik dalam mengurangi resiko bencana nuklir di abad 21”.

References :

–          K.J.Holsti, International Politics:A Framework for Analysis (Englewood Cliff, NJ USA :Prentice-Hall Inc., 1977)

–          J.David Singer, Deterrence, Arms Control, and Disarmament (Columbus: Ohio State University Press, 1962)

–          Theodore Sorensen, Decision-Making in The White House (New York: Columbia University Press, 1963)

–          Stevem L.Spiegel, World Politics in a New Era (Florida: Harcourt Brace & Company, 1995)

–          Dean A.Minix & Sandra M.Hawley, Global Politics (Belmont: Wadsworth Publishing Company, 1998)

–          Charles W.Kegley & Eugene R.Wittkopf, World Politics-Trend and Transformation Sixth Edition (New York: ST.Martin’s Press, 1997)

–          Joseph Warren Dauben, Game Theory (Redmond, WA: Microsoft Encarta DVD, 2006)

–          “Regions and Powers : The Structure of International Security”  Barry Buzan and Ole Waver. 2003. Cambridge

–          Disarmament Fact Sheet 56 “Treaty between the United States of America and the Union of Soviet Socialist Republics on the Elimination of Their Intermediate-Range and Shorter-Range Missiles”


[1] K.J.Holsti, International Politics:A Framework for Analysis (Englewood Cliff, NJ USA :Prentice-Hall Inc., 1977)  hlm.395

[2] Ibid. hlm.396

[3] J.David Singer, Deterrence, Arms Control, and Disarmament (Columbus: Ohio State University Press, 1962) hlm.162

[4] Charles W.Kegley & Eugene R.Wittkopf, World Politics-Trend and Transformation Sixth Edition (New York: ST.Martin’s Press, 1997) hlm.419-422

[5] Theodore Sorensen, Decision-Making in The White House (New York: Columbia University Press, 1963) hlm.31

[6] Joseph Warren Dauben, Game Theory (Redmond, WA: Microsoft Encarta DVD, 2006)

[7] Stevem L.Spiegel, World Politics in a New Era (Florida: Harcourt Brace & Company, 1995) hlm.505

[8] Dean A.Minix & Sandra M.Hawley, Global Politics (Belmont: Wadsworth Publishing Company, 1998) hlm.325

[9] Ibid. hlm.327

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s